Simposium Arsitektur Islam 2026: Brunei Jadi Panggung Diplomasi Budaya Iran-Turkiye
Baca dalam 60 detik
- Iran dan Turkiye memamerkan seni tradisional di Simposium Arsitektur Islam 2026 di Brunei, menarik minat diplomat dan akademisi.
- Teknik mozaik Kashi-Moargh dari Iran dan seni marbling Ebru dari Turkiye menjadi daya tarik utama bagi pengunjung muda.
- Acara ini memperkuat hubungan antarmasyarakat dan membuka peluang kerja sama budaya dengan negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia.

Bandar Seri Begawan menjadi saksi perpaduan seni dan diplomasi ketika Simposium Arsitektur Islam 2026 menghadirkan pengalaman interaktif yang mempertemukan warisan peradaban Iran dan Turkiye dengan masyarakat Brunei. Lebih dari sekadar pameran, ajang ini menjelma menjadi jembatan budaya yang mempererat hubungan antarnegara melalui keindahan seni Islam.
Diselenggarakan di Balai Khazanah Islam Sultan Haji Hassanal Bolkiah (BKISHHB), simposium ini menampilkan galeri khusus yang melibatkan sejumlah misi diplomatik asing. Partisipasi Kedutaan Besar Iran dan Turkiye di Bandar Seri Begawan memberikan dimensi internasional yang kental, memperkenalkan elemen-elemen warisan budaya mereka kepada komunitas lokal. Paviliun Iran, misalnya, menarik perhatian pejabat pemerintah, akademisi, tokoh budaya, dan kalangan diplomat.
Iran memamerkan kekayaan artistiknya melalui kaligrafi Persia Nastaliq, kerajinan Khatam dan Moarraq, ubin Islami, seni tekstil Isfahan Qalamkar, serta koleksi foto masjid-masjid ikonik. Sorotan utama adalah demonstrasi Kashi-Moargh, teknik mozaik tradisional Persia yang telah berusia berabad-abad. Dipandu oleh Javad Imani, petugas humas kedutaan, bersama pendiri Irnei Tiles and Decals, pengunjung diajak menciptakan desain sendiri menggunakan pecahan ubin keramik berwarna-warni yang dirangkai menjadi pola geometris rumit dan motif floral arabesque.
Sementara itu, Kedutaan Besar Turkiye menghadirkan demonstrasi Ebru, seni marbling tradisional yang dipandu oleh Lale Esroy, istri duta besar Turkiye. Teknik ini melibatkan percikan dan sapuan pigmen di atas permukaan air yang dikentalkan, kemudian pola yang mengapung dipindahkan ke kertas atau kain. Keindahan pusaran dan motif floral Ebru tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga diakui memiliki manfaat terapeutik. Demonstrasi ini sangat populer di kalangan pengunjung muda, mencerminkan minat yang tumbuh pada aktivitas artistik dan kreatif di kalangan generasi penerus.
Bagi Indonesia, simposium ini menawarkan pelajaran berharga tentang bagaimana seni Islam dapat menjadi medium diplomasi budaya yang efektif. Dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi besar untuk menggelar acara serupa yang mempertemukan warisan Nusantara dengan tradisi Islam global. Kerja sama dengan Iran dan Turkiye dalam bidang seni dan arsitektur Islam bisa memperkaya khazanah lokal sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat peradaban Islam yang toleran dan kreatif.
Ke depan, simposium ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga katalis bagi lahirnya inisiatif-inisiatif baru yang menghubungkan seniman, akademisi, dan diplomat dari berbagai negara. Pertanyaannya, mampukah Indonesia mengambil peran serupa untuk menjembatani budaya melalui seni Islam di kancah internasional?



