Pangeran William Sumbang Rp20 Juta untuk Selamatkan Pub Desa
Baca dalam 60 detik
- Pangeran William menyumbang ยฃ1.000 secara pribadi untuk menyelamatkan Somerset Arms, sebuah pub desa di Semington, Wiltshire, yang telah tutup tiga tahun.
- Dalam suratnya, William menyebut pub sebagai 'jalur kehidupan' yang memerangi isolasi dan memperkuat identitas lokal, terutama di pedesaan.
- Donasi ini muncul di tengah krisis pub Inggris yang kehilangan satu tempat setiap hari, dengan 15.000 pub tutup sejak tahun 2000.

Pangeran William, pewaris takhta Kerajaan Inggris, mengirimkan donasi pribadi sebesar ยฃ1.000 (sekitar Rp20 juta) kepada kelompok masyarakat yang berupaya menyelamatkan pub lokal mereka, Somerset Arms, di Semington, Wiltshire. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa institusi kerajaan peduli terhadap keberlangsungan ruang sosial tradisional yang kian tergerus zaman.
Dalam surat yang dikutip oleh Daily Telegraph, William menulis kepada Semington Community Benefit Society bahwa pub bukan sekadar tempat minum, melainkan "ruang vital yang menyatukan orang, menumbuhkan rasa memiliki, dan mendukung kesejahteraan komunitas." Ia menekankan bahwa di daerah pedesaan, pub menjadi "jalur kehidupan" yang membantu memerangi isolasi dan mempertahankan identitas lokal. William bahkan berjanji akan "turun ke sana untuk menarik pint dan merayakan kesuksesan Anda."
Andy Cobley, wakil ketua Semington Community Benefit Society, mengaku "sangat gembira dan terpana" atas dukungan tersebut. "Sungguh luar biasa Yang Mulia bisa memahami apa yang terjadi di desa-desa kecil ini dan membantu kami. Ini fantastis," ujarnya. Kelompok ini menargetkan penggalangan dana sebesar ยฃ395.000 untuk membeli Somerset Arms yang telah tutup selama tiga tahun. Hingga kini, mereka telah mengumpulkan hampir ยฃ195.000 dalam bentuk janji donasi dan ยฃ4.000 dari sumbangan individu.
Donasi ini muncul hanya dua pekan setelah William mengunjungi Prince of Peckham di London tenggara, di mana ia menyatakan "kita perlu melindungi pub kita." Dalam kunjungan itu, ia bergabung dengan klub sarapan Chatty Patty yang bertujuan mengatasi kesepian, menarik pint Red Stripe, dan menyantap ayam jerk. Pemilik pub, Clem Ogbonnaya, memuji William karena telah "menempatkan sesuatu seperti Chatty Patty di peta" dan berharap inisiatif serupa menyebar ke seluruh London.
Keterlibatan anggota kerajaan dalam upaya penyelamatan pub bukanlah hal baru. Pada Januari lalu, William dan istrinya Catherine mengunjungi The Gothenberg Pub di Fallin, Skotlandia, di mana ia memesan setengah pint sari apel dan kembali menegaskan kecintaannya pada pub. "Saya tumbuh besar di pub. Saya sangat menyukai pub," katanya kepada para pengunjung. Namun, di balik romantisme tersebut, industri pub Inggris menghadapi tekanan berat. Diperkirakan satu pub tutup setiap hari di Inggris dan Wales pada tahun lalu, dengan total 15.000 tempat usaha tutup sejak tahun 2000.
Fenomena ini relevan bagi Indonesia, di mana ruang publik seperti warung kopi dan kedai tradisional juga menghadapi tantangan serupa akibat maraknya pusat perbelanjaan modern dan perubahan gaya hidup. Meskipun skala dan konteksnya berbeda, upaya William menyoroti pentingnya melestarikan tempat-tempat yang menjadi perekat sosial komunitas. Di Indonesia, inisiatif serupa bisa menjadi inspirasi bagi figur publik untuk mendukung warung atau kedai lokal yang terancam punah.
Ke depan, keberhasilan kampanye penyelamatan Somerset Arms akan menjadi ujian apakah dukungan kerajaan mampu menggerakkan lebih banyak donasi dan perhatian publik. Pertanyaannya, mampukah langkah simbolis ini menginspirasi aksi nyata di tengah krisis yang terus menggerogoti pub-pub di Inggris? Ataukah ini hanya secercah harapan di tengah arus deras penutupan yang tak terelakkan?



