Hong Kong Terendam: Sinyal Hujan Hitam Dipasang, Sekolah Tutup
Baca dalam 60 detik
- Hong Kong menaikkan peringatan hujan tertinggi pada Kamis siang, menyebabkan penutupan sekolah dan sebagian bisnis.
- Curah hujan ekstrem lebih dari 70 mm per jam diprediksi berlanjut, dipicu monsun barat daya aktif dan palung tekanan rendah.
- Shenzhen di China daratan juga meningkatkan kewaspadaan dengan sinyal merah, mengingatkan risiko banjir bandang dan tanah longsor.

Hong Kong kembali dilanda hujan ekstrem. Pada Kamis (18/6) siang, Observatorium Hong Kong menaikkan sinyal peringatan hujan hitam—level tertinggi—yang memaksa seluruh sekolah ditutup dan sejumlah perkantoran menghentikan operasional. Warga diminta segera berlindung dan waspada terhadap banjir besar yang mengancam kawasan pusat keuangan Asia itu.
Menurut keterangan resmi observatorium, curah hujan diperkirakan terus melampaui 70 milimeter per jam. Ini merupakan kali kedua dalam sepekan terakhir sinyal hitam dikibarkan; sebelumnya pada 8 Juni, Hong Kong juga mengalami kondisi serupa. Intensitas hujan yang luar biasa ini dipicu oleh monsun barat daya yang aktif serta palung tekanan rendah yang masih bertahan di kawasan tersebut.
Angin kencang juga menjadi ancaman tambahan. Observatorium mencatat hembusan angin mencapai 80 kilometer per jam di distrik Tai O, barat daya Hong Kong. Kondisi ini diperparah dengan datangnya libur panjang akhir pekan menyusul perayaan Festival Perahu Naga pada Jumat (19/6), yang biasanya memicu mobilitas tinggi warga.
Dampak cuaca ekstrem ini tidak hanya dirasakan di Hong Kong. Di seberang perbatasan, otoritas Shenzhen, China daratan, menaikkan sinyal merah dan mengimbau warga menjauhi daerah rendah, genangan air, serta lokasi berbahaya lainnya. Mereka memperingatkan peningkatan risiko banjir bandang, tanah longsor, dan bencana hidrometeorologi lain.
Bagi Indonesia, cuaca ekstrem di Hong Kong dan China selatan menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi fenomena serupa. Meskipun Indonesia tidak berada di jalur monsun yang sama, perubahan iklim global meningkatkan frekuensi dan intensitas hujan ekstrem di berbagai belahan dunia. Pemerintah daerah di Indonesia, khususnya di wilayah rawan banjir dan longsor, perlu memperkuat sistem peringatan dini dan edukasi publik untuk mengurangi risiko bencana.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa sering sinyal hitam akan dikibarkan di Hong Kong dalam beberapa tahun mendatang. Dengan tren pemanasan global yang terus berlanjut, pola cuaca ekstrem diprediksi semakin tidak menentu. Apakah infrastruktur perkotaan dan sistem tanggap darurat di berbagai negara, termasuk Indonesia, siap menghadapi tantangan ini?



