Neraca Dagang Jepang Defisit 378,6 Miliar Yen pada Mei, Ekspor dan Impor Tumbuh Dua Digit
Baca dalam 60 detik
- Defisit perdagangan Jepang di Mei 2026 mencapai 378,6 miliar yen, pertama dalam empat bulan terakhir, dipicu oleh kenaikan impor yang lebih cepat dari ekspor.
- Ekspor Jepang naik 17,0 persen year-on-year, sementara impor melonjak 12,5 persen, mencerminkan tekanan harga energi dan bahan baku global.
- Kinerja neraca dagang Jepang menjadi sinyal bagi Indonesia untuk mencermati ketergantungan impor energi dan fluktuasi nilai tukar yen yang memengaruhi daya saing ekspor regional.

Jepang mencatat defisit perdagangan sebesar 378,6 miliar yen (setara 2,4 miliar dolar AS) pada Mei 2026, membalikkan surplus yang bertahan selama tiga bulan sebelumnya. Data Kementerian Keuangan Jepang yang dirilis Rabu (17/6) menunjukkan bahwa impor yang tumbuh lebih cepat dari ekspor menjadi biang keladi kembalinya neraca merah tersebut.
Ekspor Jepang pada Mei tercatat naik 17,0 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara impor melonjak 12,5 persen. Lonjakan impor terutama didorong oleh kenaikan harga energi dan bahan baku industri yang masih tinggi di pasar global. Defisit ini menjadi yang pertama sejak Januari 2026, ketika Jepang juga mencatatkan neraca negatif.
Kinerja perdagangan Jepang kerap menjadi barometer bagi negara-negara di kawasan Asia Timur, termasuk Indonesia. Sebagai mitra dagang utama, pergerakan yen dan permintaan Jepang terhadap komoditas seperti batu bara, gas alam cair (LNG), dan nikel berdampak langsung pada neraca perdagangan Indonesia. Jika Jepang terus mengalami defisit, tekanan terhadap nilai tukar yen bisa meningkat, berpotensi membuat harga ekspor Indonesia ke Jepang menjadi lebih mahal.
Menurut analis ekonomi dari lembaga riset Tokyo, pola defisit ini mengindikasikan bahwa pemulihan ekonomi Jepang masih rapuh di tengah tekanan biaya impor. "Kenaikan ekspor yang solid belum cukup mengimbangi lonjakan impor energi dan bahan baku. Ini menjadi sinyal bahwa Jepang perlu mempercepat diversifikasi sumber energi dan meningkatkan nilai tambah ekspor," ujar seorang ekonom yang enggan disebutkan namanya.
Bagi Indonesia, kondisi ini memberikan pelajaran berharga. Ketergantungan Indonesia pada impor minyak dan gas bumi juga membuat neraca perdagangan rentan terhadap gejolak harga komoditas. Pemerintah Indonesia perlu terus mendorong hilirisasi sumber daya alam agar nilai ekspor lebih stabil dan tidak mudah tergerus oleh kenaikan harga impor. Selain itu, pengelolaan nilai tukar rupiah yang hati-hati menjadi kunci untuk menjaga daya saing ekspor di tengah ketidakpastian global.
Ke depan, pasar akan mencermati apakah Jepang mampu membalikkan tren defisit ini dalam beberapa bulan mendatang. Faktor seperti kebijakan moneter Bank of Japan, pergerakan yen, serta harga energi global akan menjadi penentu utama. Sementara itu, Indonesia perlu waspada terhadap potensi perlambatan permintaan dari Jepang jika kondisi ekonomi mitra dagang utamanya itu terus tertekan.



