Asing Lepas Saham Rp111,6 Miliar dalam Sehari, BBRI Paling Terpukul
Baca dalam 60 detik
- Investor asing mencatat net sell Rp111,6 miliar di seluruh pasar saham Indonesia pada Kamis (18/6/2026), dengan BBRI menjadi sasaran utama.
- Aksi jual terfokus pada saham perbankan dan emiten berkapitalisasi besar, mencerminkan kekhawatiran terhadap prospek ekonomi domestik.
- IHSG berhasil memangkas koreksi dari minus 2% menjadi hanya -0,78% di akhir perdagangan, namun tekanan jual asing diprediksi masih berlanjut.

Investor asing kembali melakukan aksi jual bersih di bursa saham Indonesia pada Kamis (18/6/2026), dengan nilai total mencapai Rp111,6 miliar. Aksi ini didominasi oleh pelepasan saham-saham perbankan berkapitalisasi besar, terutama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang mencatat net sell terbesar.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), BBRI menjadi saham dengan tekanan jual asing tertinggi, mencapai Rp557,3 miliar. Angka ini jauh melampaui net sell di saham lain, menunjukkan bahwa investor global tengah mengurangi eksposur terhadap sektor perbankan tanah air. Di posisi kedua, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dilepas asing senilai Rp98,9 miliar, disusul PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar Rp85 miliar.
Aksi jual juga melanda sejumlah saham unggulan lainnya. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mencatat net sell Rp62,6 miliar, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp59,8 miliar, dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp50,4 miliar. Pola ini mengindikasikan bahwa asing tidak hanya menyasar sektor perbankan, tetapi juga merata di sektor telekomunikasi, ritel, energi, dan tambang.
Meski tekanan jual asing cukup deras, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan pemulihan signifikan pada sesi kedua. Indeks sempat merosot lebih dari 2% ke level terendah harian 6.073,72, namun berhasil memangkas koreksi dan ditutup di 6.172,34, turun 48,4 poin atau 0,78%. Pergerakan ini mengindikasikan adanya aksi beli dari investor domestik yang menahan laju penurunan lebih dalam.
Dari sisi aktivitas perdagangan, tercatat sebanyak 445 emiten berada di zona merah, 271 saham menguat, dan 243 stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp17,86 triliun dengan volume 23,55 miliar saham yang diperdagangkan dalam 1,78 juta transaksi. Kapitalisasi pasar bursa pun tergerus menjadi Rp10.740 triliun, menyusul pelemahan harga saham secara luas.
Bagi investor Indonesia, aksi jual asing ini perlu dicermati karena berpotensi berlanjut menjelang pengumuman rebalancing indeks MSCI yang kerap memicu pergerakan modal asing jangka pendek. Saham-saham dengan bobot besar seperti BBRI dan TLKM biasanya menjadi sasaran utama saat asing melakukan penyesuaian portofolio. Tekanan jual juga dapat dipicu oleh sentimen global, seperti ekspektasi suku bunga tinggi di AS dan perlambatan ekonomi China yang mengurangi minat terhadap aset emerging market.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati apakah aksi jual asing ini bersifat sementara atau merupakan awal dari arus keluar yang lebih masif. Faktor penentu utama adalah kebijakan suku bunga Bank Indonesia dan data fundamental ekonomi domestik, termasuk neraca perdagangan dan inflasi. Jika tekanan jual terus berlanjut, IHSG berisiko menguji level support psikologis 6.000, yang membutuhkan intervensi lebih lanjut dari investor institusi lokal dan pemerintah.



