Inflasi AS Menggerus Daya Beli, Belanja Konsumen Diprediksi Melambat pada 2026
Baca dalam 60 detik
- Fitch Ratings melaporkan perlambatan belanja konsumen AS akibat inflasi yang mengikis pendapatan riil dan menipiskan tabungan rumah tangga.
- Rasio tabungan terhadap pendapatan disposabel turun ke 2,6% pada April 2026, membuat rumah tangga rentan terhadap guncangan harga lebih lanjut.
- Tekanan inflasi diperkirakan tidak merata: rumah tangga berpendapatan tinggi masih tertopang efek kekayaan, sementara kelas menengah ke bawah terbebani biaya hidup dan suku bunga.

Inflasi yang terus meninggi di Amerika Serikat mulai menggerus daya beli konsumen, mendorong Fitch Ratings merevisi proyeksi pertumbuhan belanja rumah tangga menjadi hanya 1,7% sepanjang 2026—turun signifikan dibandingkan rata-rata 2,6% pada tahun sebelumnya.
Dalam laporan yang dirilis pertengahan Juni 2026, lembaga pemeringkat internasional itu menyebutkan bahwa meskipun konsumsi belum sepenuhnya ambruk, tekanan inflasi telah memperlemah pertumbuhan pendapatan riil dan mempersempit ruang gerak rumah tangga untuk berbelanja. Kepala Ekonom AS Fitch, Olu Sonola, menggarisbawahi bahwa neraca rumah tangga secara agregat masih solid, namun penyangga tabungan yang menipis membuat pola belanja ke depan semakin timpang antarkelompok masyarakat.
Data terbaru menunjukkan pertumbuhan belanja konsumen riil pada kuartal pertama 2026 hanya mencapai 1,4% secara tahunan, melambat drastis dari laju 2,6% sepanjang 2025. Meskipun angka penjualan ritel bulan Mei mengindikasikan ketahanan jangka pendek, daya beli yang disesuaikan dengan inflasi terus tertekan. Fitch memperingatkan bahwa perlambatan konsumsi masih akan berlanjut hingga paruh kedua tahun ini.
Sektor pendapatan menjadi beban utama. Fitch mencatat bahwa pertumbuhan pendapatan disposabel nominal melambat menjadi 2,6% year-on-year pada April 2026, turun dari 5,1% pada April 2025. Lebih parah lagi, pendapatan disposabel riil—yang sudah disesuaikan inflasi—mengalami kontraksi 1,1% year-on-year, berbanding terbalik dengan pertumbuhan 2,8% setahun lalu. Artinya, meskipun pendapatan nominal naik, daya beli masyarakat justru menyusut.
Kekayaan rumah tangga, terutama dari kenaikan harga saham, masih menjadi penyangga penting khususnya bagi kelompok berpendapatan tinggi. Kekayaan bersih rumah tangga mencapai 803% dari pendapatan disposabel pada kuartal pertama 2026. Namun, rasio tabungan yang terus menurun—dari sekitar 4% pada awal 2025 menjadi hanya 2,6% pada April 2026—membatasi kemampuan rumah tangga menyerap guncangan harga. Fitch juga menyoroti bahwa meskipun beban pembayaran utang secara umum masih terkendali dan tingkat kredit macet hipotek rendah, angka tunggakan kredit mobil dan kartu kredit yang tinggi mengindikasikan adanya kantong-kantong tekanan keterjangkauan di segmen tertentu.
Bagi Indonesia, perlambatan konsumsi AS memiliki implikasi langsung terhadap permintaan ekspor, terutama komoditas dan produk manufaktur yang dikirim ke pasar AS. Jika daya beli konsumen AS terus melemah, permintaan terhadap produk Indonesia—seperti minyak sawit, tekstil, dan elektronik—berpotensi tergerus. Di sisi lain, tekanan inflasi di AS juga dapat mempengaruhi kebijakan suku bunga Federal Reserve, yang pada gilirannya berdampak pada nilai tukar rupiah dan arus modal asing ke Indonesia. Bank Indonesia perlu mencermati perkembangan ini untuk menjaga stabilitas eksternal.
Ke depan, Fitch memperkirakan perlambatan konsumsi akan berlangsung tidak merata. Rumah tangga berpendapatan tinggi masih diuntungkan oleh efek kekayaan dari pasar saham, sementara kelas menengah ke bawah akan terus tertekan oleh biaya hidup dan suku bunga pinjaman yang tinggi. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah penurunan harga minyak yang berkelanjutan dapat meredakan tekanan inflasi dan memberikan napas baru bagi konsumen AS, atau justru resesi ringan akan menjadi skenario yang tak terhindarkan.



