Gempa M6,7 Guncang Palu: Warga Berhamburan, Bangunan Dilaporkan Rusak
Baca dalam 60 detik
- Gempa tektonik berkekuatan magnitudo 6,7 melanda Kota Palu dan sekitarnya pada Selasa (16/6) siang, memicu kepanikan massal dan evakuasi pasien rumah sakit.
- Guncangan dirasakan hingga Kabupaten Sigi, Donggala, dan Tojo Una-Una; satu gempa susulan magnitudo 5,2 tercatat tak lama setelah kejadian utama.
- Otoritas setempat masih mendata kerusakan dan korban, sementara masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi gempa susulan di wilayah sesar aktif Sulawesi.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260359/original/038934600_1781588341-1.jpg)
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada Selasa (16/6) siang, memaksa warga berhamburan keluar rumah dan gedung serta memicu evakuasi pasien dari rumah sakit setempat. Guncangan yang berlangsung beberapa detik itu terasa hingga ke sejumlah kabupaten di sekitarnya, membangkitkan kembali trauma pascatsunami dan likuifaksi yang meluluhlantakkan kota tersebut pada 2018.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat episenter gempa berada di darat sekitar 29 kilometer tenggara Palu dengan kedalaman 10 kilometer. Jenis gempa ini termasuk gempa kerak dangkal yang dipicu aktivitas sesar aktif di kawasan Sulawesi. Sekitar pukul 11.14 WIB, terjadi gempa susulan berkekuatan magnitudo 5,2 dengan lokasi pusat yang hampir sama. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa, namun beberapa bangunan dilaporkan mengalami keretakan dan kerusakan ringan hingga sedang.
Kepanikan melanda sejumlah titik. Di Palu, para pegawai kantor dan pengunjung pusat perbelanjaan langsung berlarian ke luar gedung. Rumah sakit terlihat sibuk mengevakuasi pasien ke area terbuka sebagai langkah antisipasi terhadap risiko bangunan ambruk. Foto-foto dari lokasi menunjukkan puluhan pasien dengan selimut dan infus menunggu di halaman rumah sakit. Situasi serupa juga terjadi di Kabupaten Sigi dan Donggala, dua daerah yang masih dalam proses pemulihan pascagempa 2018 lalu.
Gempa ini menjadi pengingat bagi Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik. Sulawesi Tengah sendiri merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas seismik tinggi karena dilalui oleh sesar Palu-Koro yang memanjang dari Teluk Palu hingga ke selatan. Gempa M7,5 pada 28 September 2018 lalu yang memicu tsunami dan likuifaksi di Palu dan Sigi menewaskan lebih dari 4.300 orang. Meskipun gempa kali ini berkekuatan lebih kecil, dampak psikologisnya cukup signifikan bagi warga yang masih menyimpan trauma.
Menurut analis kebencanaan dari Universitas Tadulako, Dr. Andi Muhammad, gempa dangkal di zona sesar aktif seperti Palu-Koro memang sulit diprediksi secara tepat waktu. "Masyarakat harus selalu siap dengan prosedur evakuasi mandiri. Bangunan di Palu dan sekitarnya perlu terus dievaluasi ketahanan gempa-nya, terutama fasilitas publik seperti rumah sakit dan sekolah," ujarnya melalui sambungan telepon. Ia juga menekankan pentingnya sistem peringatan dini yang terintegrasi dengan sensor di dasar laut dan darat.
Pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah telah mengerahkan tim reaksi cepat ke lokasi-lokasi terdampak. Posko darurat didirikan di beberapa titik untuk menampung warga yang mengungsi. Sementara itu, BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpancing informasi hoaks terkait prediksi gempa besar. Hingga saat ini, belum ada peringatan tsunami karena episenter berada di darat.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana kesiapan infrastruktur dan tata ruang Palu menghadapi gempa susulan yang mungkin terjadi. Dengan catatan sejarah gempa mematikan di wilayah tersebut, upaya mitigasi struktural dan non-struktural menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya tuntas. Mampukah pemerintah dan warga menjadikan gempa M6,7 ini sebagai momentum untuk mempercepat pembangunan yang lebih tangguh bencana?



