Pegawai IT Dikeroyok di Menteng: 7 Luka Tusuk, Emas 500 Gram Raib
Baca dalam 60 detik
- Seorang pegawai IT ditemukan kritis dengan tujuh luka tusuk di leher dan punggung di rumah rekannya di Menteng.
- Polisi mengungkap ketidaksesuaian antara keterangan saksi awal dan fakta lapangan, serta hilangnya emas 500 gram milik pemilik rumah.
- Kasus ini menyoroti meningkatnya kekerasan di Jakarta Pusat dan pentingnya verifikasi saksi dalam penyelidikan.

Seorang pegawai IT berinisial M nyaris kehilangan nyawa setelah ditikam sebanyak tujuh kali di bagian leher dan punggung di sebuah rumah di Jalan Pati, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (16/6/2026) siang. Peristiwa ini tidak hanya mengguncang lingkungan perkantoran di pusat ibu kota, tetapi juga memunculkan tanda tanya besar atas inkonsistensi keterangan saksi yang justru menjadi korban kehilangan emas batangan senilai 500 gram.
Korban ditemukan dalam kondisi hampir tidak sadarkan diri oleh warga sekitar. Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra membenarkan kejadian tersebut. Menurut penyelidikan awal, M bukan berada di rumahnya sendiri, melainkan di kediaman rekannya berinisial U. Dua orang tak dikenal dilaporkan masuk, menyekap, lalu menganiaya M hingga sekarat. Namun, polisi mengakui bahwa keterangan saksi awal tidak sejalan dengan fakta yang ditemukan di lapangan.
โKeterangan saksi awal itu tidak konsisten dengan fakta yang kami temukan. Kami masih mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan lain,โ ujar Roby kepada wartawan, Kamis (18/6/2026).
Selain luka fisik yang mengancam jiwa, polisi juga menerima laporan hilangnya barang berharga. Kapolsek Metro Menteng AKBP Braiel Arnold Rondonuwu mengungkapkan bahwa kerugian materi sementara diperkirakan mencapai emas seberat 500 gram. Barang tersebut diduga dibawa kabur pelaku, dan merupakan milik saksi U, bukan milik korban.
Korban yang sempat dalam kondisi kritis kini dilaporkan mulai membaik. โKemarin kritis, tapi hari ini sudah mulai membaik,โ kata Roby. Meski demikian, polisi belum dapat meminta keterangan dari M karena kondisinya yang belum pulih total. Hingga kini, penyidik masih mengumpulkan alat bukti dan memeriksa saksi-saksi lain untuk mengungkap motif di balik penganiayaan sadis ini.
Bagi warga Jakarta, khususnya yang tinggal di kawasan Menteng, kasus ini menjadi pengingat bahwa kekerasan bisa terjadi di lingkungan yang terkesan aman sekalipun. Ketidaksesuaian keterangan saksi juga menunjukkan bahwa proses hukum membutuhkan ketelitian ekstra. Polisi dihadapkan pada tantangan untuk memisahkan fakta dari kemungkinan rekayasa, terutama ketika barang berharga ikut lenyap. Pertanyaan yang masih menggantung: apakah aksi ini murni perampokan dengan kekerasan, atau ada motif lain yang belum terungkap?



