Kontroversi VAR di Piala Dunia: Wasit Top Dunia Pun Tak Paham Keputusan Faghani
Baca dalam 60 detik
- Wasit Alireza Faghani memutuskan tidak memberikan penalti untuk Prancis setelah Mbappe dijatuhkan Mane, meski sudah meninjau VAR.
- Mantan wasit final Piala Dunia 2010, Darren Cann, mengaku heran karena banyak koleganya juga tidak memahami keputusan tersebut.
- Keputusan kontroversial ini tidak mengubah hasil akhir: Prancis menang 3-1 dan Mbappe mencetak dua gol, sekaligus memecahkan rekor gol sepanjang masa.

Keputusan wasit Alireza Faghani untuk tidak memberikan penalti kepada Prancis setelah Kylian Mbappe dijatuhkan Sadio Mane di kotak terlarang membuat bingung kalangan wasit elit dunia. Insiden pada menit ke-58 laga Grup C Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Senegal di Stadion New York New Jersey itu menjadi sorotan tajam, terutama karena Faghani sempat meninjau tayangan ulang VAR sebelum akhirnya memutuskan tendangan gawang.
Dalam tayangan ulang, Mane terlihat meluncur dan kaki kirinya mengenai Mbappe yang sedang berlari. Namun, Faghani berdalih bahwa Mbappe-lah yang memulai kontak. Pernyataan ini sontak menuai kritik dari sejumlah pakar sepak bola. Mantan wasit asisten final Piala Dunia 2010, Darren Cann, mengaku ponselnya dibanjiri pesan dari wasit-wasit top dunia yang juga tidak mengerti dasar keputusan tersebut. “Saya sangat terkejut dia tidak menunjuk titik putih setelah review VAR yang benar,” ujarnya.
Mantan pemain sayap Skotlandia, Pat Nevin, yang meliput pertandingan untuk BBC Radio 5 Live, menyebut keputusan itu “sampah”. “Tidak mungkin Mbappe memulai kontak. Itu alasan paling tidak masuk akal yang pernah saya dengar,” tegasnya. Senada, legenda Inggris Alan Shearer menilai keputusan tersebut “aneh”. “Anda bisa lihat tekel Mane dan kaki kirinya mengenai Mbappe. Bagaimana mungkin Mbappe memulai kontak jika dia berada di depan Mane? Benar-benar aneh,” katanya.
Kontroversi ini mengingatkan pada perdebatan panjang mengenai konsistensi VAR di turnamen besar. Meski teknologi tersedia, interpretasi wasit tetap menjadi faktor penentu. Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kejadian ini menjadi pelajaran bahwa VAR tidak selalu menjamin keadilan, terutama jika wasit memiliki interpretasi yang berbeda. Di Liga Indonesia, penggunaan VAR masih terbatas, sehingga insiden seperti ini bisa menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas perwasitan nasional.
Beruntung bagi Prancis, keputusan kontroversial itu tidak berdampak pada hasil akhir. Tim asuhan Didier Deschamps menang 3-1, dengan Mbappe mencetak dua gol. Gol pertama Mbappe membuatnya menggeser Olivier Giroud sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Prancis dengan 58 gol dari 99 penampilan. Ia juga menjadi top skor Prancis sepanjang sejarah Piala Dunia dengan 14 gol dalam 15 pertandingan. “Proyek Mbappe” terus berjalan, dan kontroversi ini hanya menjadi catatan kaki dalam perjalanan gemilangnya.
Ke depan, FIFA perlu mempertimbangkan kembali pedoman penggunaan VAR, terutama dalam situasi kontak fisik di kotak penalti. Akankah keputusan seperti ini memicu perubahan aturan? Atau justru semakin memperkuat subjektivitas wasit? Yang jelas, para penggemar sepak bola di seluruh dunia, termasuk Indonesia, berharap teknologi dapat mengurangi kontroversi, bukan malah menambahnya.



