Gempa Sulteng: 109 Jiwa Terdampak, Infrastruktur Jalan dan Jembatan Rusak
Baca dalam 60 detik
- Gempa magnitudo 6,7 di Sulawesi Tengah berdampak pada 109 jiwa dan merusak puluhan rumah serta infrastruktur vital.
- Kabupaten Sigi menjadi wilayah paling parah dengan 69 jiwa terdampak dan delapan luka berat.
- BNPB mencatat 55 gempa susulan dan mengimbau warga waspada terhadap bangunan rusak.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6) siang menyebabkan 109 jiwa dari 45 kepala keluarga terdampak, serta merusak puluhan rumah, jembatan, dan ruas jalan provinsi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa 24 warga mengalami luka ringan dan delapan lainnya luka berat, dengan data yang masih terus diperbarui.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan tertulis Selasa malam, menyebutkan bahwa Kabupaten Sigi mencatat dampak terbesar: 24 KK atau 69 jiwa terdampak, 21 luka ringan, dan delapan luka berat. Sementara itu, Kabupaten Parigi Moutong melaporkan 21 KK atau 40 jiwa terdampak. Kota Palu mencatat dua luka ringan, dan Kabupaten Poso satu luka yang masih dalam pendataan.
Kerusakan infrastruktur cukup signifikan. BNPB mencatat sedikitnya 64 unit rumah terdampak, termasuk empat rusak ringan. Empat fasilitas ibadah, empat fasilitas umum, dua jembatan, dua gedung perkantoran, satu tempat usaha, dan satu ruas jalan provinsi penghubung Palu-Sigi-Poso mengalami amblas. Di Kabupaten Sigi, 44 rumah terdampak, satu rumah rusak ringan, empat fasilitas ibadah, dua gedung perkantoran, satu bangunan, dan satu jembatan rusak. Di Poso, lima rumah terdampak, tiga rusak ringan, dan satu ruas jalan provinsi rusak. Parigi Moutong melaporkan 15 rumah terdampak. Di Kota Palu, Jembatan III mengalami keretakan, satu tempat usaha, satu fasilitas umum, dan satu hotel rusakโmasih dalam pendataan. Kabupaten Donggala masih dalam proses kaji cepat.
Menurut Abdul Muhari, aktivitas gempa susulan masih terus terjadi. Data BMKG mencatat 55 kali aftershock hingga pukul 14.00 WIB. Jumlah dan karakteristik gempa susulan terus diperbarui. Sebagai respons, pemerintah daerah bersama BPBD dan instansi terkait melakukan berbagai langkah penanganan. Di Kota Palu, seluruh pasien Rumah Sakit Anutapura sempat dievakuasi ke area terbuka. Tenda darurat telah didirikan, dan pasien secara bertahap kembali ke ruang perawatan. Pemerintah Kota Palu belum menetapkan status keadaan darurat. Di Kabupaten Poso, masyarakat bersama aparat kepolisian membersihkan puing-puing bangunan.
Kebutuhan mendesak mulai teridentifikasi, antara lain logistik penanggulangan bencana, terpal untuk menutupi bangunan rusak, dan pemasangan tenda di halaman RSUD Kabupaten Poso. BNPB mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak terpancing informasi tidak terverifikasi, mengikuti informasi resmi dari BMKG dan BNPB, serta menghindari bangunan rusak hingga dinyatakan aman. Proses kaji cepat dan pendataan masih berlangsung, sehingga angka korban dan kerusakan berpotensi berubah. Pertanyaan kritis kini mengemuka: seberapa cepat pemerintah dapat memulihkan akses jalan dan jembatan yang rusak untuk mencegah dampak lebih luas pada distribusi logistik dan mobilitas warga?



