Perjalanan Panjang Yordania ke Piala Dunia 2026: Dari Harry Redknapp hingga Berhadapan dengan Messi
Baca dalam 60 detik
- Yordania lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya setelah melalui perjalanan panjang penuh liku, termasuk kegagalan di play-off 2014 dan eksperimen pelatih asal Inggris.
- Keberhasilan ini tidak lepas dari perubahan strategi federasi yang beralih dari pelatih bintang ke pembinaan jangka panjang, diikuti sukses di Piala Asia 2023.
- Di Grup J, Yordania akan menghadapi Austria, Aljazair, dan Argentina; laga melawan juara dunia pada 27 Juni menjadi puncak perjuangan mereka.

Yordania akhirnya mencatatkan sejarah dengan lolos ke putaran final Piala Dunia untuk pertama kalinya, setelah puluhan tahun bermimpi, berganti strategi, dan melewati kegagalan demi kegagalan. Tim berjuluk Al-Nashama itu akan memulai petualangan mereka di Amerika Serikat dengan menghadapi Austria pada laga perdana, sebelum berpotensi bertemu Lionel Messi dan Argentina di partai pamungkas grup.
Perjalanan Yordania menuju Piala Dunia 2026 bukanlah kisah instan. Negara berpenduduk 11 juta jiwa ini harus menempuh kualifikasi panjang yang dimulai sejak 1986, namun baru kali ini berhasil menembus putaran final. Salah satu momen paling pahit terjadi pada 2014, ketika mereka kalah agregat 0-5 dari Uruguay di play-off antar-konfederasi. Saat itu, Yordania harus memainkan 20 pertandingan kualifikasi tanpa hasil.
Kegagalan demi kegagalan mendorong Federasi Sepak Bola Yordania (JFA) untuk melakukan introspeksi besar. Pada era kepemimpinan Pangeran Ali Bin al-Hussein, JFA sempat mendatangkan nama-nama besar seperti Ray Wilkins dan Harry Redknapp. Namun, kontrak Redknapp hanya bertahan dua pertandingan setelah Yordania kalah telak 1-5 dari Australia. Pengalaman itu menjadi titik balik: JFA beralih dari pendekatan sensasional ke pembinaan jangka panjang yang berorientasi pada budaya dan strategi.
Transformasi mulai terlihat setelah kedatangan pelatih asal Maroko, Hussein Ammouta, pada Juni 2023. Di bawah asuhannya, Yordania tampil mengejutkan di Piala Asia 2023 dengan mencapai final, mengalahkan Irak dan Korea Selatan di jalan. Meski kalah dari Qatar di partai puncak, fondasi tim sudah kokoh. Penerus Ammouta, Jamal Sellami—juga dari Maroko—berhasil membawa Yordania finis di atas Arab Saudi di babak pertama kualifikasi dan menjadi runner-up Grup B di babak kedua, cukup untuk merebut tiket ke Amerika Serikat.
Bagi pengamat sepak bola Asia Tenggara, kisah Yordania menawarkan pelajaran berharga. Negara dengan sumber daya terbatas mampu bersaing di level tertinggi berkat perencanaan yang matang dan kesabaran. Di Indonesia, di mana sepak bola kerap diwarnai gejolak manajerial dan pergantian pelatih instan, model Yordania bisa menjadi referensi. Keberhasilan mereka juga menegaskan bahwa ekspansi Piala Dunia menjadi 48 tim membuka peluang bagi negara-negara non-unggulan, namun tiket tetap harus diperjuangkan—seperti yang gagal dilakukan Italia.
Menjelang turnamen, Yordania menguji kekuatan dengan melawan tim-tim langganan Piala Dunia. Hasil imbang 2-2 melawan Kosta Rika dan Nigeria di Maret menjadi modal berharga, meski kemudian kalah dari Swiss dan Kolombia dalam laga uji coba. Dua pertandingan pertama mereka akan digelar di Santa Clara, California, memberi kenyamanan bagi para pendukung yang bermarkas di Portland, Oregon. Puncaknya, pada 27 Juni di Arlington, Texas, Yordania akan berhadapan dengan Argentina—sebuah laga yang oleh mantan direktur komunikasi JFA, Mustafa Arqawi, disebut sebagai “final Piala Dunia versi Yordania.”
Kapten Musa Al-Taamari, yang bermain untuk Rennes di Ligue 1, menjadi motor serangan. Ia menegaskan bahwa motivasi tim bukanlah uang, melainkan kebanggaan membela negara. “Kami bermain untuk kebahagiaan, untuk Yordania,” ujarnya kepada BBC. Dengan semangat itu, Yordania berharap bisa menjadi kuda hitam yang merepotkan lawan-lawannya. Namun, pertanyaan besarnya: mampukah mereka melangkah lebih jauh dari sekadar partisipasi perdana?



