Putra Netanyahu Sebut Falkland Milik Argentina, Hubungan Inggris-Israel Diuji
Baca dalam 60 detik
- Yair Netanyahu, putra PM Israel, memicu kemarahan di Inggris dengan menyatakan Kepulauan Falkland adalah wilayah Argentina.
- Komentar tersebut dianggap mengancam aliansi historis Inggris-Israel, terutama dari kelompok sayap kanan yang selama ini pro-Israel.
- Insiden ini menyoroti kerapuhan hubungan diplomatik di tengah perubahan politik global dan dapat berdampak pada dinamika Timur Tengah.

Pernyataan putra Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Yair Netanyahu, yang mendukung klaim Argentina atas Kepulauan Falkland telah memicu gelombang kritik di Inggris. Melalui akun media sosial X, Yair menyatakan dukungannya kepada Presiden Argentina Javier Milei dan menegaskan bahwa gugusan pulau di Samudra Atlantik Selatan itu merupakan bagian dari Argentina. Sikap ini langsung memanaskan hubungan diplomatik yang selama ini terjalin erat antara London dan Tel Aviv.
Komentar Yair Netanyahu muncul di tengah ketegangan global yang sudah memanas, terutama setelah perubahan pemerintahan di Inggris dari Partai Konservatif ke Partai Buruh. Yang membuat pernyataan ini semakin sensitif adalah fakta bahwa kelompok sayap kanan Inggris, yang selama ini menjadi pendukung setia Israel, justru merasa dikhianati. Mereka menilai pernyataan tersebut tidak hanya keliru secara historis, tetapi juga berpotensi mengikis dukungan politik yang telah dibangun selama beberapa generasi.
Alex Armstrong, komentator dan penyiar asal Inggris, menjadi salah satu suara paling vokal yang mengkritik Yair. Armstrong menegaskan bahwa komentar semacam itu menunjukkan ingatan yang pendek dari sebagian komentator Israel dan sama sekali tidak membantu memperkuat hubungan bilateral. Ia juga mengingatkan bahwa Argentina, secara historis, bukanlah sekutu Israel dan bahkan pernah menyamakan Falkland dengan Gaza, sebuah perbandingan yang dianggapnya tidak berdasar.
"Ingatan sebagian komentator Israel sangat pendek dan pernyataan mereka sama sekali tidak membantu," ujar Armstrong, seperti dikutip Israel Hayom, Kamis (3/9/2026).
Armstrong juga menyoroti bahwa tindakan pemerintah Partai Buruh tidak mewakili seluruh warga Inggris, dan bahwa perubahan pemerintahan adalah hal yang rutin terjadi. Ia menekankan bahwa Inggris telah memberikan dukungan militer dan politik kepada Israel selama beberapa generasi, dan komentar seperti ini hanya akan merusak sikap baik yang telah dipegang teguh oleh para pendukung Israel di Inggris.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan kompleksitas hubungan internasional yang sering kali dipengaruhi oleh pernyataan individu, bahkan dari kalangan keluarga pemimpin negara. Di tengah upaya Indonesia memperkuat solidaritas Palestina dan menjaga hubungan baik dengan negara-negara Barat, dinamika seperti ini menunjukkan betapa cepatnya isu geopolitik dapat bergeser. Indonesia perlu mencermati bagaimana perubahan sikap politik di negara-negara besar dapat berdampak pada stabilitas kawasan Timur Tengah, yang secara langsung mempengaruhi posisi Indonesia dalam forum internasional.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah pernyataan Yair Netanyahu akan mempengaruhi kebijakan resmi Israel atau hanya menjadi cuitan pribadi yang tak berdampak. Namun, yang jelas, insiden ini telah membuka luka lama dan menguji ketahanan aliansi yang selama ini dianggap kokoh. Apakah Inggris akan tetap menjadi sekutu utama Israel, atau justru mulai menjauh seiring dengan perubahan politik di dalam negerinya? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal pasti: kata-kata dari seorang putra pemimpin bisa memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar dari sekadar debat di media sosial.



