Dony Oskaria Panggil Pucuk Pimpinan Bank BUMN: Target Kredit Tembus Rp 4,7 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Kepala BP BUMN Dony Oskaria mengumpulkan seluruh direktur utama dan komisaris utama bank Himbara untuk mengevaluasi kinerja kredit yang tumbuh 14,35% secara tahunan.
- Pertumbuhan kredit bank BUMN jauh melampaui rata-rata industri per April 2026, dengan BRI, Mandiri, dan BNI menjadi motor utama ekspansi ke sektor produktif dan UMKM.
- Rapat ini menegaskan komitmen pemerintah menjadikan perbankan pelat merah sebagai mesin pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Kepala Badan Pengelola BUMN sekaligus Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengumpulkan seluruh direktur utama dan komisaris utama bank-bank milik negara dalam sebuah rapat tertutup di Jakarta, Senin (15/6/2026). Pertemuan ini bukan sekadar agenda rutin—di tengah tekanan likuiditas global dan perlambatan ekonomi, pemerintah ingin memastikan bank pelat merah tetap menjadi motor pembiayaan sektor riil.
Dalam rapat yang digelar di kantor pusat Danantara tersebut, Dony menekankan pentingnya peran Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. “Kinerja bank Himbara yang positif jadi pilar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui pembiayaan yang lebih besar kepada sektor-sektor produktif dan kerakyatan,” demikian pernyataan resmi yang dikutip dari akun Instagram resmi BUMN. Sektor yang menjadi prioritas meliputi manufaktur, hilirisasi sumber daya alam, infrastruktur, dan UMKM—semua dinilai mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan daya saing.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per April 2026 menunjukkan bahwa kredit bank BUMN tumbuh 14,35% secara tahunan (year-on-year), jauh di atas rata-rata industri yang hanya 9,98%. Angka ini mengonfirmasi bahwa bank pelat merah masih menjadi andalan dalam penyaluran dana ke sektor produktif. BRI, misalnya, mencatat penyaluran kredit Rp1.562 triliun pada kuartal I-2026, dengan porsi UMKM mencapai Rp1.211 triliun—menegaskan fokusnya pada ekonomi kerakyatan. Bank Mandiri mencatat pertumbuhan kredit 17,4% menjadi Rp1.530 triliun, sementara BNI tumbuh 20,1% menjadi Rp919,3 triliun. BTN dan BSI juga mencatat pertumbuhan dua digit, masing-masing 10,3% dan 14,39%.
Bagi investor dan pelaku pasar, sinyal dari rapat ini cukup jelas: pemerintah tidak hanya mengejar pertumbuhan kuantitatif, tetapi juga kualitas penyaluran. Dony secara eksplisit menyebutkan bahwa perbankan BUMN harus menjadi “motor penggerak pembangunan yang sehat, profesional, dan berkelanjutan.” Ini berarti ekspansi kredit harus diimbangi dengan manajemen risiko yang ketat, terutama di tengah ketidakpastian suku bunga global dan potensi kenaikan kredit macet.
Konteks domestik juga penting dicermati. Dengan target pertumbuhan ekonomi nasional yang ambisius, pemerintah mengandalkan bank BUMN untuk mengisi celah pembiayaan yang ditinggalkan oleh sektor perbankan swasta yang cenderung lebih konservatif. Hilirisasi sumber daya alam dan pembangunan infrastruktur membutuhkan pendanaan jangka panjang yang besar—dan Himbara diharapkan menjadi ujung tombaknya. Namun, tantangan tetap ada: efisiensi operasional, digitalisasi layanan, dan persaingan dengan bank digital serta fintech.
Ke depan, publik akan menanti realisasi komitmen ini dalam laporan keuangan semester I-2026. Akankah pertumbuhan kredit bank BUMN mampu bertahan di atas 14%? Atau justru melambat karena kebijakan pengetatan selektif? Jawabannya akan menentukan sejauh mana bank pelat merah benar-benar menjadi pilar pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.



