Rod Stewart Dikecam Usai Batal Konser karena Sakit, Lalu Terbang Nonton Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Rod Stewart membatalkan konser di California karena infeksi saluran pernapasan akut, namun keesokan harinya terbang ke Boston untuk menonton pertandingan Piala Dunia.
- Keputusan tersebut memicu kemarahan penggemar yang merasa dibohongi, terutama mereka yang telah mengeluarkan biaya perjalanan dan akomodasi.
- Insiden ini menyoroti pentingnya konsistensi antara pernyataan publik dan tindakan pribadi, serta dampaknya terhadap kepercayaan penggemar.

Legenda musik rock asal Inggris, Rod Stewart, menuai kritik tajam setelah membatalkan konser mendadak di Chula Vista, California, Jumat (26/6) karena menderita radang tenggorokan, namun hanya beberapa jam kemudian ia terlihat terbang dengan jet pribadi untuk menonton pertandingan Piala Dunia di Boston.
Penyanyi berusia 81 tahun itu seharusnya tampil di North Island Credit Union Amphitheatre, namun melalui unggahan Instagram Stories ia mengumumkan pembatalan tersebut atas saran dokter. Diagnosis menunjukkan ia mengalami infeksi saluran pernapasan akut yang menyebabkan laringitis, sehingga tidak memungkinkan untuk bernyanyi. Dalam pernyataannya, Stewart menyatakan kekecewaannya dan berjanji akan menjadwalkan ulang konser.
Namun, keesokan harinya, Stewart justru mengunggah video dirinya bersama dua putranya, Liam (31) dan Alistair (20), di dalam pesawat menuju Boston untuk menyaksikan laga Skotlandia melawan Haiti di Piala Dunia. "Ini sudah 28 tahun, saya sudah cerita ke mereka, tapi mereka belum pernah. Saya sudah ke tujuh Piala Dunia," ujarnya dalam video tersebut.
Kontradiksi antara pembatalan konser karena alasan kesehatan dan kehadirannya di acara olahraga langsung menuai kecaman. Di kolom komentar, penggemar menyebut tindakan Stewart sebagai "tone deaf" atau tidak peka. Seorang penggemar menulis, "Terlalu sakit untuk tampil, tapi cukup sehat untuk terbang ke seberang negara demi sepak bola?" Kritik lain menyoroti bahwa banyak penggemar telah mengeluarkan biaya besar untuk perjalanan dan akomodasi, namun merasa diabaikan.
Di Indonesia, insiden ini dapat menjadi pengingat bagi para artis dan penyelenggara acara tentang pentingnya transparansi dan empati terhadap penggemar. Kasus serupa pernah terjadi di Tanah Air ketika sejumlah konser dibatalkan mendadak tanpa penjelasan memadai, yang berujung pada protes dan tuntutan ganti rugi. Kepercayaan penggemar adalah aset berharga yang mudah runtuh jika tidak dijaga.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah Stewart akan mampu memulihkan citranya di mata penggemar yang kecewa. Tindakan reschedule konser mungkin tidak cukup jika tidak diimbangi dengan permintaan maaf yang tulus dan langkah konkret untuk menghargai pengorbanan penggemar. Di era media sosial, setiap langkah publik figur diawasi ketat, dan inkonsistensi sekecil apa pun dapat menjadi boomerang.



