Bukan Satu Tapi Dua: Kisah di Balik Dua Trofi Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Trofi Jules Rimet yang asli hilang dicuri pada 1983 dan diduga telah dilebur, sehingga FIFA menggantinya dengan desain baru sejak 1974.
- Desain trofi saat ini, karya Silvio Gazzaniga, melambangkan dua figur manusia yang mengangkat Bumi, mencerminkan semangat global sepak bola.
- Berbeda dengan pendahulunya, trofi modern tidak lagi diberikan secara permanen kepada negara mana pun; pemenang hanya menerima replika berlapis emas.

Trofi Piala Dunia, simbol supremasi sepak bola dunia, ternyata memiliki dua versi sepanjang sejarahnya. Lebih dari setengah abad berlalu sejak trofi asli digantikan oleh desain yang digunakan saat ini, menyisakan kisah penuh intrik, pencurian, dan misteri yang jarang terungkap.
Trofi pertama, dikenal sebagai Jules Rimet, diperkenalkan pada 1930 saat FIFA menggelar turnamen perdana. Dinamai dari presiden FIFA saat itu, Jules Rimet, yang menjabat selama 33 tahun—terlama dalam sejarah organisasi. Patung dewi kemenangan Yunani, Nike, yang sedang mengangkat piala, dirancang oleh pematung Prancis Abel Lafleur. Terbuat dari perak sterling berlapis emas dengan dasar batu lapis lazuli, trofi ini sempat diselamatkan dari Nazi oleh pejabat sepak bola Italia, Ottorino Barassi, yang menyembunyikannya dalam kotak sepatu di bawah tempat tidurnya selama Perang Dunia II.
Namun, petaka terjadi pada 1966, beberapa bulan sebelum Piala Dunia di Inggris. Trofi dicuri saat pameran umum. Untungnya, seekor anjing bernama Pickles menemukannya terbungkus koran di bawah pagar taman di London Selatan. Insiden itu menjadi berita utama dunia. Brazil kemudian menjadi pemilik permanen Jules Rimet setelah menjuarai Piala Dunia ketiga kalinya pada 1970. Namun, pada 1983, trofi kembali dicuri dari markas Konfederasi Sepak Bola Brasil di Rio de Janeiro dan tak pernah ditemukan lagi—diduga telah dilebur.
FIFA kemudian memperkenalkan trofi baru pada 1974, dirancang oleh seniman Italia Silvio Gazzaniga—yang juga mendesain trofi Liga Europa UEFA. Tingginya 36 sentimeter, terbuat dari emas 18 karat, dan menggambarkan dua figur manusia yang mengangkat Planet Bumi. Menurut FIFA, desain ini "menangkap semangat global dan pemersatu sepak bola". Jerman Barat menjadi tim pertama yang mengangkat trofi anyar tersebut pada 1974.
Pelajaran berharga dari hilangnya Jules Rimet membuat FIFA tidak lagi memberikan trofi asli secara permanen kepada negara mana pun. Kini, juara dunia hanya memegang trofi asli saat upacara penyerahan, lalu mendapatkan replika berlapis emas untuk disimpan. Kebijakan ini memastikan trofi utama tetap aman dan tidak bernasib sama seperti pendahulunya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah dua trofi ini mengingatkan bahwa di balik kemegahan Piala Dunia terdapat sejarah panjang yang penuh drama. Dengan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, pertanyaan pun muncul: akankah trofi saat ini tetap utuh atau justru akan menyusul jejak Jules Rimet? Yang jelas, FIFA telah belajar dari masa lalu.



