FIFA Usut Isyarat Tangan Wasit VAR: Simbol Rasis atau Lelucon?
Baca dalam 60 detik
- FIFA meminta klarifikasi dari ofisial VAR asal Australia, Shaun Evans, terkait gestur tangan yang diduga bermuatan simbol supremasi kulit putih.
- Isyarat 'OK' terbalik yang ditunjukkan Evans sebelum laga Jerman vs Curacao memicu perdebatan sengit di media sosial dan menuai kecaman dari jaringan anti-diskriminasi.
- Pasca insiden, FIFA mengubah tayangan pra-pertandingan dengan tidak lagi menampilkan ofisial VAR berpose di depan kamera.

FIFA tengah mendesak klarifikasi dari asisten wasit video (VAR) Shaun Evans setelah ia memperagakan isyarat tangan kontroversial sebelum laga Jerman melawan Curacao pada Piala Dunia 2026, Minggu (16/6). Gestur yang menyerupai simbol 'OK' terbalik itu langsung menjadi sorotan karena memiliki dua makna yang bertolak belakang: sekadar lelucon populer atau kode rahasia kelompok supremasi kulit putih.
Insiden terjadi saat siaran global FIFA menampilkan para ofisial VAR di ruang kendali Dallas. Dalam tayangan yang biasanya memperlihatkan mereka bekerja di depan monitor, Evans justru berdiri dengan tangan di samping tubuh dan membentuk lingkaran dengan ibu jari serta telunjukโposisi yang lazim dikenal sebagai 'circle game' dari serial TV Malcolm in the Middle. Namun, sejak 2017, simbol yang sama juga diadopsi oleh kelompok sayap kanan ekstrem sebagai kode 'white power', dan pada 2019 resmi masuk daftar simbol kebencian versi Anti-Defamation League (ADL).
Jaringan anti-diskriminasi Fare, yang bermitra dengan FIFA dan UEFA, langsung angkat bicara. Dalam pernyataannya, Fare menegaskan bahwa gestur tersebut sangat mirip dengan simbol 'white power' yang lazim di kalangan ekstremis global. "Kami meminta klarifikasi resmi dari FIFA," ujar perwakilan Fare. Hingga berita ini diturunkan, FIFA belum memberikan tanggapan resmi, meskipun BBC Sport melaporkan bahwa induk sepak bola dunia itu telah meminta penjelasan langsung dari Evans.
Yang menarik, setelah pertandingan Jerman vs Curacao, FIFA diam-diam mengubah format tayangan pra-pertandingan. Dalam tiga laga berikutnya, kamera tidak lagi menampilkan ofisial VAR berpose, melainkan langsung memperlihatkan mereka menghadap monitor. Nama-nama ofisial tetap ditampilkan, tetapi momen 'sapa kamera' dihilangkan. FIFA tidak memberikan alasan atas perubahan ini, memicu spekulasi bahwa langkah tersebut merupakan respons terhadap kontroversi yang melanda Evans.
Shaun Evans, 38 tahun, bukanlah nama asing di dunia perwasitan. Ia telah masuk daftar wasit FIFA sejak 2017 dan bertugas sebagai VAR pada Piala Dunia 2022 di Qatar. Di Australia, ia memimpin laga A-League sejak 2012 dan menjadi wasit final Grand Final 2019. Namun, pengalaman panjang itu tidak membuatnya kebal dari kritik. Publik menuntut transparansi FIFA dalam menangani kasus ini, terutama mengingat posisi Evans sebagai ofisial yang seharusnya menjunjung tinggi integritas dan netralitas.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya literasi simbol dan kewaspadaan terhadap konten bernuansa rasis di ranah olahraga. Meskipun Piala Dunia 2026 tidak digelar di Asia, pengaruh FIFA terhadap federasi sepak bola global, termasuk PSSI, sangat kuat. Jika FIFA gagal menindak tegas simbol-simbol kebencian, dikhawatirkan akan muncul preseden buruk yang merembet ke kompetisi domestik. Sejumlah pengamat sepak bola Indonesia menilai bahwa FIFA perlu bersikap lebih proaktif, tidak hanya dalam investigasi tetapi juga dalam edukasi wasit dan ofisial tentang sensitivitas simbol.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: apakah FIFA akan menjatuhkan sanksi kepada Evans atau justru menganggap ini sebagai kesalahan yang tidak disengaja? Keputusan ini akan menjadi ujian kredibilitas FIFA dalam memerangi diskriminasi. Jika dibiarkan, gestur serupa bisa muncul lagi di panggung internasional, menggerogoti semangat fair play yang selama ini dijunjung tinggi.



