Dari Pegawai Bank Dublin ke Piala Dunia: Kisah Roberto Lopes yang Direkrut Lewat LinkedIn
Baca dalam 60 detik
- Bek berusia 33 tahun itu akan menjadi starter saat Cape Verde menghadapi Spanyol di laga perdana Piala Dunia 2026.
- Pelatih Cape Verde saat itu, Rui Aguas, menghubungi Lopes melalui LinkedIn setelah mengetahui ayahnya berasal dari negara kepulauan Afrika tersebut.
- Kisah Lopes menjadi simbol kebangkitan sepak bola Cape Verde, negara dengan populasi 525.000 jiwa yang baru pertama kali lolos ke Piala Dunia.

Seorang mantan pegawai bank di Dublin akan berhadapan dengan raksasa sepak bola Spanyol di Piala Dunia 2026, setelah direkrut melalui LinkedIn untuk membela negara kepulauan kecil di lepas pantai Afrika Barat. Roberto Lopes, bek 33 tahun yang kini bermain untuk Shamrock Rovers, menjadi sorotan saat Cape Verde bersiap menjalani debut di turnamen empat tahunan tersebut.
Lopes, yang dijuluki 'Pico', memulai karier sebagai penasihat hipotek paruh waktu di Bohemians pada 2017 sebelum beralih ke sepak bola profesional. Namun, titik balik terjadi pada 2019 ketika pelatih Cape Verde saat itu, Rui Aguas, mengiriminya pesan di LinkedIn. Awalnya, Lopes mengabaikan pesan berbahasa Portugis itu karena mengira itu spam. Baru sembilan bulan kemudian, setelah mendapat pesan lanjutan, ia menerjemahkannya dan menemukan tawaran untuk membela Tim Nasional Cape Verde. "Saya langsung bersemangat," kenang Lopes, yang ayahnya berasal dari Cape Verde.
Keputusan itu mengubah hidupnya. Hanya beberapa hari setelah membantu Cape Verde lolos ke Piala Dunia, Lopes menjadi ayah untuk pertama kalinya. "Bisa mewakili keluarga saya di salah satu ajang olahraga terbesar di dunia membuat saya sangat bangga," ujarnya. Lopes diperkirakan akan menjadi starter saat Cape Verde menghadapi Spanyol di Atlanta, Senin mendatang.
Kisah Lopes hanyalah satu dari sekian banyak cerita menarik di balik partisipasi perdana Cape Verde. Negara yang merdeka dari Portugal pada 1975 ini telah mengalami kebangkitan luar biasa di sepak bola. Mantan pemain tim nasional, Anselmo 'Jair' Ribeiro, mengenang masa-masa ketika ia harus membayar sendiri tiket pesawat untuk bisa membela negara. "Saya dulu bilang ke orang-orang saya dari Cape Verde, mereka malah bertanya 'di mana itu?'," kata Jair, yang kini berusia 51 tahun. Kini, Cape Verde menjadi salah satu negara dengan populasi terkecil yang pernah tampil di Piala Dunia, berkat perluasan format turnamen dari 32 menjadi 48 tim.
Euforia juga terasa di diaspora Cape Verde di Amerika Serikat, khususnya di Massachusetts yang menjadi rumah bagi sekitar 70.000 hingga 90.000 warga keturunan Cape Verde. Antonio Alves, pemilik Thony's Barbershop di Dorchester, Boston, mengatakan bahwa sejak Cape Verde lolos pada Oktober lalu, hanya ada satu topik pembicaraan di tokonya. "Ini adalah kekuatan olahraga, menyatukan orang-orang," ujar Alves, yang akan menempuh perjalanan 1.600 kilometer ke Atlanta untuk menyaksikan pertandingan bersejarah itu. Tokonya akan menyiarkan langsung pertandingan dengan makanan dan minuman gratis bagi warga setempat.
Bagi Indonesia, kisah Cape Verde menawarkan pelajaran tentang bagaimana negara kecil bisa bersaing di panggung global dengan memanfaatkan diaspora dan sumber daya terbatas. Dengan populasi lebih dari 270 juta, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengikuti jejak Cape Verde jika pengelolaan sepak bola dilakukan secara profesional. Pertanyaan besarnya: mampukah Indonesia suatu hari nanti meniru kisah sukses negara kepulauan kecil ini?



