Remaja Malaysia Patahkan Stigma, Tembus Caltech: Pelajaran bagi Sistem Pendidikan Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Rishika Suntharam menjadi satu-satunya pelajar Malaysia yang diterima di program sarjana Caltech angkatan 2030, setelah meraih beasiswa Shell Malaysia.
- Ia menekankan bahwa universitas AS lebih menghargai cerita pribadi dan kegiatan ekstrakurikuler dibanding sekadar nilai akademik, berbeda dengan sistem di Malaysia dan Indonesia.
- Melalui inisiatif Girls In Numbers, ia telah menjangkau lebih dari 1.200 siswi Malaysia dan berencana memperluas dampaknya ke Asia Tenggara dengan dukungan jaringan global Caltech.

Seorang remaja asal Negeri Sembilan, Malaysia, berhasil menembus seleksi ketat California Institute of Technology (Caltech), salah satu universitas paling selektif di dunia. Rishika Suntharam, 19 tahun, menjadi satu-satunya pelajar Malaysia yang diterima di program sarjana Caltech untuk Kelas 2030, sebuah pencapaian yang ia akui semula terasa mustahil.
Penerimaan ini bukan sekadar prestasi individu. Rishika juga mendapat tawaran dari sejumlah kampus elite AS lainnya, seperti Wharton School di University of Pennsylvania, Columbia University, University of California Los Angeles, dan Colorado School of Mines. Namun, pilihannya jatuh pada Caltech, tempat ia akan mengambil jurusan information and data science dengan fokus pada applied and computational mathematics.
Bagi Rishika, kunci keberhasilannya bukan hanya nilai akademik. Dalam sistem pendidikan Malaysia—yang tak jauh berbeda dengan Indonesia—tekanan pada hasil ujian nasional seperti SPM sangat dominan. Ia sendiri meraih 10A+ di SPM, tetapi ia menilai universitas di AS mencari lebih dari sekadar angka rapor. “Mereka ingin tahu cerita Anda, kegiatan ekstrakurikuler, dan apa yang Anda lakukan di luar kelas,” ujarnya kepada StarEdu.
Pandangan Rishika menjadi relevan bagi Indonesia, di mana sistem seleksi masuk perguruan tinggi negeri masih sangat bergantung pada nilai ujian tulis. Banyak siswa potensial dengan prestasi non-akademik yang kuat justru tersisih. Kisah Rishika menunjukkan bahwa pendekatan holistik—yang memadukan riset, kompetisi, dan inisiatif sosial—dapat membuka pintu ke kampus kelas dunia.
Ketertarikan Rishika pada sains data berawal dari kekagumannya pada pola spiral galaksi Bima Sakti. Rasa ingin tahu itu membawanya ke riset machine learning, dan pada 2024 ia menjadi presenter di International Conference on Mathematical and Scientific Machine Learning di Naples, Italia, bersama mentornya Zad Chin. Ia juga aktif di berbagai kompetisi internasional, termasuk meraih peringkat tiga besar di Stanford iGEM Global BioHacks dan mengembangkan perangkat lunak pendeteksi penipuan di Harvard-Duke AI Global Ivy Hackathon.
Di luar akademik, Rishika mendirikan Girls In Numbers, sebuah inisiatif nirlaba yang memberdayakan siswi Malaysia di bidang matematika melalui webinar dan program penjangkauan. Sejak 2024, program ini telah menjangkau lebih dari 1.200 siswi. Ia berencana memperluas jangkauannya ke Asia Tenggara dengan menggandeng jaringan alumni Caltech, UN Women, UNESCO, dan organisasi non-pemerintah regional.
Pencapaian Rishika menjadi cermin bagi sistem pendidikan di Indonesia. Banyak siswa berbakat yang mungkin tidak memiliki akses informasi tentang apa yang dicari universitas top dunia. Kisahnya mengingatkan bahwa potensi besar sering kali tersembunyi di balik keterbatasan eksposur. Pertanyaan yang muncul: apakah sistem pendidikan Indonesia siap memberi ruang bagi siswa untuk mengembangkan cerita unik mereka, bukan sekadar mengejar nilai?



