Gempa Kumamoto: AS Siap Kirim Bantuan, Jepang Belum Minta
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Amerika Serikat menyatakan kesiapan membantu Jepang pascagempa berkekuatan 7,1 SR di Kumamoto yang menewaskan belasan orang.
- Hingga Rabu, Tokyo belum mengajukan permintaan bantuan resmi, meski lebih dari 8.700 warga mengungsi akibat gempa susulan.
- Sikap Jepang yang enggan meminta bantuan asing segera mencerminkan protokol penanggulangan bencana yang mandiri, berbeda dengan respons Indonesia yang kerap membuka pintu bagi donor internasional.

Washington, D.C. — Amerika Serikat menyatakan siap memberikan bantuan kemanusiaan kepada Jepang menyusul gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,1 skala Richter yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Selasa (29/7). Namun, hingga Rabu, Tokyo belum mengajukan permintaan resmi, menurut pernyataan juru bicara Departemen Luar Negeri AS.
Dalam keterangan yang disampaikan kepada Kyodo News, seorang pejabat Departemen Luar Negeri mengatakan pemerintah AS terus memantau perkembangan di lapangan dan telah menjalin komunikasi dengan otoritas setempat. “Kami menyampaikan simpati mendalam kepada para korban,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Washington siap memberikan bantuan konsuler bagi warga Amerika yang terdampak serta bantuan teknis jika diminta.
Gempa yang terjadi pada Selasa sore waktu setempat itu menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai puluhan lainnya. Lebih dari 8.700 warga mengungsi di pusat-pusat evakuasi, sementara gempa susulan masih terus terjadi. Otoritas Jepang masih melakukan pencarian dan penyelamatan di reruntuhan bangunan yang ambruk.
Kesiapan AS ini menjadi sorotan karena Jepang dikenal memiliki sistem penanggulangan bencana yang sangat mandiri dan efisien. Negeri Sakura jarang meminta bantuan internasional dalam skala besar, kecuali dalam situasi luar biasa seperti gempa dan tsunami 2011. Sikap ini berbeda dengan Indonesia yang, dalam bencana besar seperti gempa Lombok 2018 atau tsunami Palu, kerap membuka pintu bagi bantuan asing dan organisasi multilateral.
Menurut analis kebencanaan dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Surya, perbedaan pendekatan ini mencerminkan kapasitas infrastruktur dan budaya respons bencana masing-masing negara. “Jepang memiliki sistem peringatan dini yang canggih, bangunan tahan gempa, serta logistik evakuasi yang terlatih. Indonesia masih dalam proses membangun ketahanan serupa, sehingga lebih bergantung pada bantuan eksternal,” jelasnya.
Bagi Indonesia, gempa Kumamoto menjadi pengingat pentingnya investasi dalam mitigasi bencana. Dengan letak geografis yang sama-sama berada di Cincin Api Pasifik, risiko gempa besar selalu mengintai. Pemerintah Indonesia sendiri tengah memperkuat sistem peringatan dini dan standar bangunan tahan gempa, namun masih menghadapi tantangan dalam implementasi di daerah-daerah terpencil.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah Jepang akan mengubah kebijakannya dan meminta bantuan AS jika korban terus bertambah atau gempa susulan memperparah kerusakan. Sementara itu, Indonesia dapat memetik pelajaran dari kesiapsiagaan Jepang untuk memperbaiki strategi penanggulangan bencana nasional.



