Fed Tahan Suku Bunga di Tengah Tekanan Inflasi Perang Iran: Ada Apa dengan Sinyal September?
Baca dalam 60 detik
- Bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuan di 3,50-3,75% untuk kelima kalinya berturut-turut, meskipun ada tekanan inflasi baru dari kenaikan harga minyak akibat eskalasi konflik Timur Tengah.
- Tiga anggota FOMC memilih kenaikan 25 basis poin, menunjukkan perpecahan internal; Ketua Fed Kevin Warsh menyebut perdebatan sengit sebagai 'cara yang lebih baik untuk merumuskan kebijakan'.
- Pasar kini memperkirakan potensi kenaikan suku bunga pada September, namun Warsh menolak memberikan panduan ke depan, sejalan dengan sikapnya untuk tidak lagi mengeluarkan proyeksi kebijakan moneter.

Federal Reserve (Fed) kembali mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50-3,75 persen pada Rabu (30/7), meskipun gelombang baru kenaikan harga minyak akibat perang yang semakin intensif di Timur Tengah menambah tekanan inflasi. Keputusan ini diambil dalam voting 9-3 pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) dua hari, dengan tiga anggota yang tidak setuju memilih kenaikan 25 basis poin.
Ini adalah kali kelima berturut-turut Fed menahan suku bunga sejak Desember tahun lalu. Namun, yang menarik perhatian adalah perpecahan di dalam komite. Ketua Fed Kevin Warsh, yang baru menjabat sejak Mei, mengakui adanya perbedaan pendapat. "Saya minta perdebatan keluarga yang sehat, dan saya mendapatkannya," ujarnya dalam konferensi pers. Warsh menegaskan bahwa debat semacam itu adalah cara terbaik untuk mencapai kebijakan yang tepat, meskipun ia enggan merinci bagaimana FOMC mencapai keputusan akhir.
Warsh menegaskan bahwa Fed tidak memiliki "tongkat ajaib" untuk menurunkan inflasi ke target 2 persen. "Ini bukan sesuatu yang bisa kami selesaikan dalam hitungan hari atau minggu. Tapi kami akan memenuhi tanggung jawab yang diberikan Kongres kepada kami," katanya. Pernyataan ini muncul di tengah ekspektasi pasar bahwa data inflasi yang lebih rendah pada Juni bisa membuka peluang pemotongan suku bunga. Namun, kenaikan harga minyak baru-baru ini—setelah AS dan Iran gagal menghentikan serangan sesuai kesepakatan—kembali mengancam tren penurunan inflasi.
Pernyataan FOMC kali ini hampir identik dengan pernyataan Juni, menyebut bahwa "aktivitas ekonomi berkembang pada kecepatan yang solid meskipun ketidakpastian tinggi, sebagian karena konflik di Timur Tengah." Warsh, yang menggantikan Jerome Powell, juga menolak memberikan petunjuk tentang arah kebijakan ke depan. Ia konsisten dengan sikapnya untuk tidak lagi mengeluarkan panduan masa depan (forward guidance), berbeda dengan pendahulunya.
Bagi Indonesia, keputusan Fed ini memiliki implikasi langsung. Suku bunga AS yang tinggi cenderung memperkuat dolar AS dan menekan nilai tukar rupiah. Bank Indonesia (BI) selama ini merespons dengan menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas. Jika Fed kembali menaikkan suku bunga pada September, tekanan terhadap rupiah dan arus modal asing bisa meningkat. Di sisi lain, kenaikan harga minyak akibat perang Iran juga berpotensi mendorong inflasi impor Indonesia, terutama melalui harga BBM dan bahan pangan.
Presiden Donald Trump, yang menunjuk Warsh, kembali mendukung kepemimpinannya. "Dia fantastis. Dia pria yang brilian, pintar. Saya tahu dia ingin melihat suku bunga lebih rendah, tapi dia punya dewan, dan itu dewan politik, dan mereka ingin suku bunga tetap tinggi," kata Trump. Pernyataan ini menggarisbawahi tekanan politik yang terus dihadapi Fed, namun Warsh tampaknya tetap berpegang pada independensi bank sentral.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Fed benar-benar menaikkan suku bunga pada September, atau justru menahan diri jika data inflasi kembali melandai? Dengan konflik Timur Tengah yang masih memanas dan harga minyak yang volatil, jalan menuju stabilitas harga tampak masih panjang. Pasar dan pelaku usaha di Indonesia pun harus bersiap menghadapi ketidakpastian kebijakan moneter global yang masih tinggi.



