Pasangan Lintas Negara Menghidupkan Desa di Wakayama: Kisah Integrasi dan Gotong Royong
Baca dalam 60 detik
- George dan Mami Hamilton, pasangan Amerika-Jepang, pindah ke Kudoyama dan aktif dalam pemadam kebakaran sukarela, kelompok pemburu, serta festival lokal.
- Mereka membeli rumah kosong dengan lahan pertanian, menanam jeruk hassaku dan kesemek, serta memperbaiki rumah berusia 40 tahun.
- Pasangan ini berencana membantu calon pendatang baru dengan berbagi pengalaman relokasi, bekerja sama dengan kantor kota.

Seorang pria asal Amerika Serikat dan istrinya yang berasal dari Jepang memilih meninggalkan hiruk-pikuk Osaka untuk menetap di pedesaan Wakayama. Kini, mereka menjadi motor penggerak komunitas setempat—bertani, memadamkan kebakaran, berburu babi hutan, hingga berparade samurai. Kisah George dan Mami Hamilton membuktikan bahwa integrasi budaya bisa dimulai dari langkah kecil di desa terpencil.
George William Hamilton (39), warga negara AS asal Washington State, bersama istrinya Mami (41) yang lahir di Sakai, Osaka, membeli sebuah rumah kosong di Kudoyama pada 2022. Rumah tua itu disertai lahan pertanian yang kini mereka garap untuk menanam jeruk hassaku dan kesemek. "Saya selalu ingin tinggal di pegunungan. Rumah orang tua saya di Washington juga di tengah hutan, hampir tidak bertetangga," ujar George dalam dialek Kansai kepada Mainichi Shimbun.
Keseharian pasangan ini padat. George bekerja sebagai asisten guru bahasa Inggris di sekolah dasar dan menengah di Osaka Prefecture, sementara Mami empat hari seminggu bekerja di penginapan kuil di Gunung Koya. Akhir pekan adalah waktu mereka berkebun. Namun, kontribusi mereka pada komunitas jauh melampaui rutinitas itu.
Di tengah kesibukan, Mami menyempatkan diri berjalan-jalan dengan anjing peliharaan sambil menyapa tetangga. "Saya ingin berperan seperti perawat komunitas, hanya dengan berhenti mengobrol dengan orang-orang," katanya. Filosofi ini selaras dengan semangat gotong royong yang mereka temukan di Kudoyama. "Pegawai kantor kota sangat membantu kami saat pindah, dan tetangga selalu memperhatikan kami. Karena kami sudah mengalaminya sendiri, pasti ada hal yang bisa kami bagikan dengan orang yang juga berpikir untuk pindah," ujar salah satu dari mereka.
Bagi Indonesia, kisah Hamilton menyiratkan pelajaran tentang revitalisasi desa. Di tengah urbanisasi yang terus meningkat, model relokasi sukarela ke pedesaan dengan dukungan komunitas bisa menjadi inspirasi. Pemerintah daerah di Indonesia kerap menggulirkan program transmigrasi atau desa mandiri, namun tantangan integrasi sosial dan ekonomi seringkali menjadi kendala. Inisiatif seperti yang dilakukan Hamilton—aktif dalam kegiatan lokal, memanfaatkan lahan tidur, dan menjadi jembatan bagi pendatang baru—menawarkan pendekatan organik yang layak ditiru.
Ke depan, pasangan ini berencana bekerja sama dengan kantor kota untuk membantu calon pendatang. "Kami bersedia melakukan apa pun yang kami bisa," tegas mereka. Pertanyaannya, akankah semakin banyak warga kota—baik di Jepang maupun Indonesia—berani mengambil langkah serupa untuk menghidupkan kembali desa-desa yang mulai sepi?



