Waspada Hoaks Uang Pecahan Baru: BI Pastikan Tak Ada Edisi Prabowo-Gibran
Baca dalam 60 detik
- Tiga hoaks uang baru bergambar Prabowo-Gibran dan tanpa tiga nol beredar luas di media sosial, dibantah Bank Indonesia.
- Klaim uang Rp18 ribu dan Rp1 juta dengan foto presiden-wakil presiden adalah rekayasa digital, bukan desain resmi.
- Masyarakat diimbau merujuk kanal resmi BI dan tidak menyebarkan informasi keuangan yang belum terverifikasi.

Bank Indonesia (BI) belum pernah menerbitkan uang rupiah bergambar Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, beredar luas di media sosial klaim yang menyebutkan sebaliknya—lengkap dengan desain uang Rp18 ribu dan Rp1 juta yang menampilkan keduanya. Hoaks ini bukan hanya menyesatkan, tetapi juga berpotensi merugikan masyarakat yang mudah percaya pada informasi keuangan palsu.
Tim verifikasi Liputan6.com menemukan setidaknya tiga varian hoaks yang beredar sejak akhir 2025 hingga pertengahan 2026. Pertama, unggahan di Facebook pada 6 Juni 2026 yang menampilkan uang Rp18 ribu bergambar Prabowo-Gibran, Monas, dan Istana Negara. Kedua, video reels pada 15 November 2025 yang mengklaim BI merilis uang kertas tanpa tiga angka nol di belakang, dengan nominal seperti “SATU RUPIAH” dan “LIMA RUPIAH”. Ketiga, foto uang Rp1 juta bergambar presiden-wapres yang diunggah pada 16 Juni 2026 dengan narasi bahwa uang tersebut “viral” dan hanya satu lembar bernilai besar.
BI secara konsisten menyatakan bahwa desain uang rupiah baru selalu melalui proses panjang dan diumumkan resmi melalui kanal komunikasi bank sentral. Hingga saat ini, belum ada perubahan gambar tokoh nasional pada uang rupiah. Desain yang beredar di media sosial merupakan hasil manipulasi digital atau spekulasi liar. “Masyarakat harus waspada terhadap informasi yang tidak bersumber dari BI,” tegas seorang pejabat BI dalam keterangan sebelumnya.
Fenomena hoaks uang baru ini mengingatkan pada pola serupa yang muncul setiap kali ada transisi kepemimpinan atau wacana redenominasi. Sejak era Presiden Joko Widodo, klaim uang bergambar presiden baru kerap muncul tanpa dasar. Kini, dengan kembalinya Prabowo sebagai presiden dan Gibran sebagai wapres, hoaks serupa kembali mencuat. Hal ini menunjukkan rendahnya literasi digital masyarakat terhadap informasi keuangan.
Dampak dari hoaks semacam ini tidak sepele. Selain menimbulkan kebingungan, informasi palsu tentang uang baru dapat memicu spekulasi harga jual-beli uang “edisi langka” di marketplace. Beberapa oknum bahkan memanfaatkan momen ini untuk menipu kolektor uang kuno. Oleh karena itu, BI bersama Kementerian Komunikasi dan Digital terus memantau dan meminta platform media sosial menurunkan konten hoaks serupa.
Bagi masyarakat Indonesia, langkah paling bijak adalah selalu memverifikasi informasi keuangan melalui situs resmi BI atau menghubungi layanan kontak bank sentral. Jangan mudah tergiur dengan desain uang yang tampak meyakinkan, apalagi jika disertai narasi “viral” atau “langka”. Seperti diingatkan oleh pegiat literasi digital, hoaks uang baru adalah bentuk pembodohan publik yang harus dilawan dengan sikap kritis.
Ke depan, BI diharapkan lebih gencar melakukan sosialisasi desain uang baru sebelum beredar, agar masyarakat tidak mudah tertipu oleh rekayasa digital. Pertanyaannya, akankah literasi keuangan masyarakat Indonesia mampu mengejar laju hoaks yang semakin canggih?



