AS dan Iran Sepakati Akhiri Perang, Selat Hormuz Segera Dibuka
Baca dalam 60 detik
- Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung sejak Februari lalu.
- Kesepakatan ini membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital bagi 20 persen pasokan minyak dunia, yang sebelumnya lumpuh akibat perang.
- Iran berencana mengenakan biaya layanan bagi kapal yang melintas, namun AS menolak tegas pungutan tersebut.

Pemerintah Amerika Serikat dan Iran secara resmi mengumumkan nota kesepahaman untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama berbulan-bulan, sebuah langkah yang diproyeksikan membuka kembali Selat Hormuz—jalur pelayaran minyak paling kritis di dunia—dalam waktu dekat.
Pengumuman itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump melalui media sosial pada Sabtu lalu menyatakan bahwa kesepakatan yang akan ditandatangani pada hari berikutnya akan membuat selat tersebut segera "terbuka untuk semua". Pernyataan itu mengakhiri spekulasi panjang mengenai nasib jalur air sempit antara Iran dan Oman yang sebelumnya menjadi pusat ketegangan militer.
Konflik bersenjata antara AS-Israel dan Iran pecah pada akhir Februari lalu. Gencatan senjata rapuh sempat disepakati pada awal April, namun ketegangan kembali memuncak setelah jatuhnya sebuah helikopter AS di atas Selat Hormuz awal bulan ini. Insiden itu memicu saling tembak yang mengancam stabilitas kawasan.
Sejak perang dimulai, Selat Hormuz praktis tertutup bagi pelayaran internasional. Padahal, sekitar 20 persen dari seluruh pengiriman minyak dunia sebelumnya melintasi perairan tersebut. Penutupan itu telah mengacaukan pasar energi global dan menimbulkan ketidakpastian ekonomi yang meluas, termasuk lonjakan harga minyak yang dirasakan hingga ke Indonesia.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam pernyataan di televisi nasional pada Jumat lalu mengatakan bahwa Iran akan mengenakan biaya layanan bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Namun, Trump dan tim negosiator AS secara konsisten menolak rencana pungutan tersebut. Perbedaan pandangan ini diperkirakan akan menjadi salah satu agenda utama dalam pertemuan tiga hari Kelompok Tujuh (G7) yang dimulai Senin di Evian-les-Bains, Prancis, yang juga dihadiri Trump.
Bagi Indonesia, pembukaan kembali Selat Hormuz membawa angin segar. Sebagai negara pengimpor minyak, stabilitas pasokan dan harga energi sangat krusial. Sejak konflik memanas, pemerintah Indonesia harus mengalokasikan subsidi energi lebih besar dan mengimpor minyak dari rute alternatif yang lebih mahal. Kesepakatan ini berpotensi menurunkan tekanan inflasi dan meringankan beban APBN.
Namun, masih ada persoalan yang belum tuntas. Iran bersikeras memungut biaya layanan, sementara AS menolak. Jika tidak ada kompromi, bukan tidak mungkin ketegangan baru muncul. Para analis memperkirakan bahwa negosiasi teknis mengenai tarif lintas akan menjadi ujian pertama bagi implementasi gencatan senjata. Pertanyaannya, mampukah kedua pihak menahan diri dan mengutamakan stabilitas ekonomi global di atas kepentingan nasional jangka pendek?



