BRICS Perkuat Ketahanan Pangan dengan AI dan Pertanian Digital: Peluang Besar bagi Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Negara BRICS sepakat memperkuat kerja sama ketahanan pangan melalui AI, satelit, dan pertanian digital dalam pertemuan menteri pertanian di India.
- Indonesia berpotensi mendapatkan akses riset, teknologi, dan pasar melalui platform BRICS Agricultural Research dan jaringan AGRIN.
- Kesepakatan ini membuka peluang bagi petani kecil Indonesia untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing di pasar global.

Negara-negara BRICS berkomitmen memperkuat kerja sama di bidang ketahanan pangan, pertanian berkelanjutan, dan pertanian digital, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) serta pemantauan pertanian berbasis satelit. Komitmen ini tertuang dalam deklarasi bersama yang diadopsi dalam Pertemuan Menteri Pertanian BRICS di Indore, India, pada 12-13 Juni 2026, di bawah kepresidenan India.
Kementerian Pertanian Indonesia, dalam pernyataan resmi, menyatakan bahwa anggota BRICS sepakat memperluas kerja sama di bidang teknologi peternakan, kesehatan hewan, perikanan dan akuakultur, serta manajemen pascapanen, penyimpanan, sistem rantai dingin, dan pengurangan kehilangan pangan. Langkah ini bertujuan meningkatkan ketahanan pangan dan pendapatan petani.
Dalam deklarasi tersebut, BRICS juga mendorong penguatan kerja sama di bidang keamanan pangan, standar sanitasi dan fitosanitasi (SPS), serta sertifikasi digital. Kerja sama ini dinilai dapat meningkatkan akses pasar dan daya saing produk pertanian Indonesia di pasar internasional. Selain itu, anggota BRICS sepakat memperkuat kerja sama dalam pertanian yang tangguh terhadap iklim, agroekologi, dan pertanian regeneratif.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan, Ali Jamil, menegaskan bahwa deklarasi tersebut menegaskan kembali komitmen BRICS untuk memperkuat ketahanan pangan global, meningkatkan kesejahteraan petani kecil, perempuan, dan pemuda, serta memperluas kerja sama dalam inovasi, teknologi, perdagangan, dan pembangunan pertanian berkelanjutan. "Bagi Indonesia, hasil pertemuan ini membuka berbagai peluang strategis, termasuk perluasan kerja sama riset, inovasi, dan transfer teknologi melalui BRICS Agricultural Research Platform (BARP), serta penguatan kolaborasi di bidang benih, sumber daya genetik, pupuk, dan input pertanian melalui jaringan BRICS AGRIN untuk mendukung produktivitas yang lebih tinggi dan ketahanan pangan nasional," ujarnya.
Kementerian Pertanian juga melaporkan bahwa Indonesia mengadakan pertemuan bilateral dengan Afrika Selatan dan India di sela-sela pertemuan untuk meningkatkan kerja sama di bidang standar kualitas dan keamanan pangan, akses pasar, pengembangan kapasitas, dan pertanian digital. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok pangan global.
Ke depan, implementasi kesepakatan ini akan menjadi kunci. Apakah Indonesia mampu memanfaatkan platform riset dan jaringan AGRIN untuk mentransfer teknologi tepat guna bagi petani kecil? Ataukah kerja sama ini hanya akan dinikmati oleh korporasi besar? Pertanyaan-pertanyaan ini menanti jawaban dari kebijakan pemerintah ke depan.



