Gempa 7,1 Guncang Kumamoto: 13 Tewas, Ratusan Tertimbun di Mal Ambruk
Baca dalam 60 detik
- Gempa bumi berkekuatan 7,1 SR di Kumamoto, Jepang, menewaskan sedikitnya 13 orang dan memicu ledakan di pusat perbelanjaan Aeon Mall yang menyebabkan puluhan orang terjebak.
- Tim penyelamat masih berupaya menjangkau korban di reruntuhan, sementara lebih dari 9.000 warga mengungsi di 506 tempat penampungan di tiga wilayah Kyushu.
- Bencana ini mengingatkan pada gempa kembar Kumamoto 2016 yang menewaskan hampir 300 jiwa, serta menjadi pelajaran bagi Indonesia yang juga rawan gempa untuk memperkuat mitigasi bencana.

Gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,1 skala Richter yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang barat daya, Selasa lalu, telah merenggut sedikitnya 13 nyawa dan memicu ledakan besar di sebuah pusat perbelanjaan yang membuat puluhan orang diduga masih tertimbun reruntuhan. Tim penyelamat kini berlomba dengan waktu untuk menemukan korban selamat di tengah puing-puing bangunan yang hancur.
Guncangan yang terjadi pukul 16.27 waktu setempat itu menyebabkan kerusakan parah di Pulau Kyushu, termasuk merobohkan rumah-rumah, memicu kebakaran, dan melumpuhkan pasokan listrik serta air bersih bagi puluhan ribu warga. Ledakan di Aeon Mall Kashima terjadi sekitar 50 menit setelah gempa utama, diduga akibat kebocoran gas. Tiga orang dipastikan tewas di lokasi tersebut, satu orang lagi dikhawatirkan meninggal, dan tiga lainnya masih hilang.
Presiden Aeon, Akio Yoshida, menyatakan bahwa penyebab ledakan masih dalam penyelidikan, namun eksekutif Aeon lainnya, Keiji Ohno, dalam konferensi pers mengakui kemungkinan besar gas menjadi pemicunya. Sementara itu, di pabrik Nippon Paper Industries di Kota Yatsushiro, lima orang tewas dan empat lainnya belum ditemukan setelah sebagian cerobong asap pabrik runtuh. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyebut situasi ini sebagai โperlombaan melawan waktuโ dan mengerahkan personel penyelamat dalam jumlah besar.
Menurut Juru Bicara Pemerintah Minoru Kihara, sebanyak 130 polisi, 450 petugas pemadam kebakaran, dan 170 personel militer dikerahkan dalam operasi pencarian di Aeon Mall Kumamoto. Hingga Rabu pagi, lebih dari 9.000 warga mengungsi di 506 tempat penampungan di tiga wilayah Kyushu. Sekitar 31.200 rumah tangga masih tanpa listrik, dan 84.000 rumah mengalami gangguan pasokan air. Kereta peluru Shinkansen sebagian besar masih dihentikan sementara.
Bagi sebagian warga setempat, gempa ini terasa paling dahsyat yang pernah mereka alami. Kanzo Matsumoto, 73 tahun, pengelola penginapan onsen mewah di Yatsushiro, mengatakan kepada AFP, โIni gempa terkuat yang pernah saya rasakan.โ Tokito Kitagawa, 21 tahun, yang sedang dalam perjalanan motor, menuturkan, โTiba-tiba ada suara keras. Saya tidak bisa berdiri. Saya harus berjongkok. Lalu semua mi cup berjatuhan menimpa saya.โ Seorang pengguna X dengan nama Palan yang bekerja di mal tersebut menceritakan bahwa staf telah memandu pelanggan keluar, lalu beberapa karyawan kembali untuk mengambil barang. โKarena tidak ada asap di dalam, kami merasa aman. Lalu ledakan terjadi,โ tulisnya.
Rekaman dari dalam mal menunjukkan petugas penyelamat berjas oranye dan helm putih berusaha menembus tumpukan besi bengkok, kabel menjuntai, dan potongan langit-langit. Laporan awal menyebutkan 20 hingga 30 orang mungkin terjebak di dalam. Gempa juga merobohkan gerbang tradisional torii, membuat kereta barang terguling, dan meretakkan jalan. Bagian dinding Kastil Kumamoto yang berusia berabad-abad juga ambruk.
Konteks Indonesia: Pelajaran dari Gempa Kumamoto
Bencana ini menjadi pengingat bagi Indonesia, yang juga terletak di Cincin Api Pasifik dan memiliki risiko gempa tinggi. Pengalaman gempa kembar Kumamoto 2016 yang menewaskan hampir 300 orang menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan dan respons cepat. Indonesia perlu mengevaluasi ketahanan infrastruktur, terutama pusat perbelanjaan dan pabrik, terhadap guncangan gempa serta potensi bahaya sekunder seperti kebakaran dan ledakan gas. Sistem peringatan dini dan prosedur evakuasi yang ketat di Jepang, meskipun tidak sempurna, dapat menjadi acuan untuk meningkatkan mitigasi bencana di Tanah Air.
Ke depan, tantangan utama adalah mempercepat evakuasi korban di tengah kondisi cuaca dan risiko gempa susulan. Pemerintah Jepang telah menyiagakan tim medis dan logistik tambahan. Pertanyaan yang mengemuka: akankah standar bangunan di Jepang yang terkenal ketat mampu meminimalkan korban jiwa dalam skala besar, atau justru perlu ada revisi regulasi untuk mengantisipasi gempa megathrust yang diprediksi akan terjadi?



