BTS Boikot Grammy Setelah Kategori Pop Asia Dianggap Diskriminatif
Baca dalam 60 detik
- BTS secara resmi tidak akan mengirimkan karya mereka untuk Grammy tahun depan, menyusul pembentukan kategori Best Asian Pop Music Performance yang dinilai mengkotak-kotakkan musisi Asia.
- Keputusan ini memicu perdebatan global tentang kesetaraan dalam industri musik, di mana label 'Asia' justru berpotensi membatasi pengakuan artistik di panggung internasional.
- Langkah BTS bisa menjadi preseden bagi artis Asia lainnya, termasuk dari Indonesia, untuk menolak kategori khusus yang dianggap tidak menghargai universalitas musik.

BTS, grup K-pop paling berpengaruh di dunia, secara mengejutkan mengumumkan bahwa mereka tidak akan mengikuti ajang Grammy Awards tahun depan. Keputusan ini diambil setelah Recording Academy, penyelenggara Grammy, memperkenalkan kategori baru bernama Best Asian Pop Music Performance yang dinilai oleh BTS sebagai bentuk pengkotak-kotakan musisi berdasarkan asal wilayah dan bahasa.
Dalam pernyataan bersama yang diunggah di akun Instagram masing-masing anggota pada Rabu (29/7), BTS menegaskan bahwa musik seharusnya dinilai dari kualitasnya, bukan dari label geografis. “Kami berharap musik didengar dan dicintai apa adanya, bukan dibatasi oleh wilayah atau bahasa,” tulis mereka. Keputusan ini langsung menjadi sorotan global, mengingat BTS adalah salah satu artis dengan basis penggemar terbesar di dunia dan telah beberapa kali masuk nominasi Grammy tanpa pernah sekalipun membawa pulang piala.
Kategori Best Asian Pop Music Performance merupakan salah satu dari lima kategori baru yang diumumkan bulan lalu. Menurut Recording Academy, kategori ini bertujuan untuk menghormati “keunggulan artistik dalam pertunjukan musik pop Asia yang berasal dari atau dikenal luas di pasar Asia, termasuk namun tidak terbatas pada K-pop, J-pop, dan C-pop.” Namun, syarat “penggunaan bermakna setidaknya satu bahasa Asia” membuat album terbaru BTS, Arirang, tidak memenuhi kualifikasi karena sebagian besar liriknya berbahasa Inggris. Album tersebut sebelumnya digadang-gadang bakal bersaing di kategori utama seperti Album of the Year.
Keputusan BTS menuai reaksi beragam. Sebagian penggemar mendukung langkah tersebut sebagai bentuk protes terhadap sistem penghargaan yang dianggap tidak adil. Namun, kritik juga datang dari pihak yang menilai bahwa kategori khusus seperti ini justru memberikan ruang bagi artis Asia untuk bersaing di panggung yang sebelumnya didominasi oleh musik Barat. Di sisi lain, banyak pengamat musik menilai bahwa kategori tersebut secara tidak langsung menegaskan superioritas musik berbahasa Inggris dan menganggap musik Asia sebagai “yang lain”.
Fenomena ini relevan bagi industri musik Indonesia. Sebagai salah satu pasar musik terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki banyak musisi berbakat yang seringkali kesulitan menembus pasar global. Kategori khusus seperti ini bisa menjadi pedang bermata dua: di satu sisi membuka peluang, di sisi lain membatasi pengakuan. Langkah BTS bisa menjadi inspirasi bagi musisi Tanah Air untuk menuntut kesetaraan dalam penghargaan internasional, bukan sekadar ditempatkan dalam kotak regional.
Pertanyaan besarnya kini: apakah langkah BTS akan diikuti oleh artis Asia lainnya? Atau justru sebaliknya, kategori baru ini akan dimanfaatkan sebagai batu loncatan untuk memperkenalkan musik Asia ke audiens yang lebih luas? Yang jelas, keputusan BTS telah membuka diskusi penting tentang bagaimana industri musik global seharusnya merayakan keragaman tanpa menciptakan sekat-sekat baru.



