Kate O'Connor Akhirnya Raih Emas Commonwealth Games, Akhir Penantian 40 Tahun Irlandia Utara
Baca dalam 60 detik
- Atlet heptatlon asal Irlandia Utara, Kate O'Connor, memecahkan puasa emas negaranya di cabang atletik Commonwealth Games sejak 1986.
- Dengan total 6.569 poin, unggul 291 poin dari pesaing terdekat, O'Connor menunjukkan ketangguhan mental di tengah cuaca buruk.
- Kemenangan ini menjadi modal berharga jelang Kejuaraan Eropa Agustus mendatang, sekaligus membuktikan dirinya layak diperhitungkan di level tertinggi.

Kate O'Connor akhirnya menuntaskan misi besarnya. Atlet heptatlon berusia 25 tahun itu mempersembahkan medali emas pertama bagi Irlandia Utara di cabang atletik Commonwealth Games dalam 40 tahun terakhir, setelah menjuarai nomor heptatlon di Glasgow, Rabu (12/3/2025).
Pencapaian ini menjadi puncak dari perjalanan O'Connor yang pada 2025 lalu sukses mengoleksi perak di Kejuaraan Dunia indoor dan outdoor, serta perunggu di Kejuaraan Eropa indoor. Namun, emas senior di ajang bergengsi selalu menjadi target yang belum tergapai. Kini, dengan torehan 6.569 poin, ia unggul 291 poin dari wakil Inggris, Jade O'Dowda, yang harus puas dengan perak.
Perjalanan O'Connor menuju emas tidaklah mulus. Hujan deras yang mengguyur Scotstoun Stadium pada sesi kedua, Selasa (11/3/2025), menjadi ujian tersendiri. Setelah memulai dengan baikโfinis ketiga di 100m gawang dan mencatat lompatan 1,82m di nomor lompat tinggiโia justru kesulitan di nomor tolak peluru. O'Connor hanya mampu melempar sejauh 12,85m, jauh di bawah standarnya. "Memegang peluru di tengah hujan seperti mencoba mengangkat sabun mandi," ujarnya kepada BBC Sport NI, menggambarkan frustrasinya.
Namun, mental juara O'Connor tak luntur. Ia bangkit di nomor 200m dengan memenangi heat-nya dalam waktu 24,14 detik. Keesokan harinya, ia tampil gemilang: lompat jauh 6,37m, lempar lembing 52,85m (rekor musim terbaik), dan menutup dengan kemenangan di 800m dalam 2:10,46. "Saya datang dengan ekspektasi tinggi, ingin mencetak 6.600 atau 6.700 poin. Tapi setelah hari pertama, saya harus mengatur ulang target. Ini bukan soal skor besar, tapi tentang bertanding dan memberikan yang terbaik di tengah tantangan," jelasnya.
Bagi Indonesia, kisah O'Connor menjadi pengingat bahwa ketangguhan mental dan adaptasi terhadap kondisi adalah kunci di ajang multi-cabang. Atlet-atlet Indonesia yang berlaga di SEA Games atau Asian Games kerap menghadapi tantangan serupa: cuaca tak menentu, tekanan ekspektasi, dan persaingan ketat. Pelajaran dari O'Connor adalah pentingnya tidak menyerah pada satu kegagalan di nomor tertentu, melainkan fokus pada kekuatan di nomor lain.
Kemenangan ini juga menegaskan dominasi O'Connor di kancah atletik Eropa, apalagi setelah absennya juara bertahan Katerina Johnson-Thompson. Dengan usia yang masih muda, O'Connor diprediksi akan menjadi ancaman serius di Kejuaraan Eropa di Birmingham, Agustus mendatang. "Saya berharap cuaca di sana lebih hangat, dan saya bisa mencetak skor lebih baik. Tapi untuk sekarang, saya sangat bahagia dengan awal musim ini," pungkasnya.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah O'Connor mempertahankan performa dan meraih emas Eropa, atau justru tekanan sebagai juara akan menjadi bumerang? Satu hal yang pasti, atlet asal Newry ini telah membuktikan bahwa ia bukan sekadar penantang, melainkan calon penguasa baru heptatlon dunia.



