Sterling Holdings Anjlok 7% Setelah Laba per Saham Terkoreksi
Baca dalam 60 detik
- Saham Sterling Financial Holdings ambles 7% dalam sehari setelah laporan keuangan semester I 2026 menunjukkan laba per saham merosot dari N0,88 menjadi N0,77.
- Meski laba bersih naik 41% menjadi N137,4 miliar, aksi jual dipicu oleh kenaikan jumlah saham beredar akibat rights issue yang mendilusi laba per saham.
- Dua pemegang saham utama, CardinalStone dan Silverlake, terdilusi kepemilikannya dari 54,82% menjadi 44,21% pasca penambahan modal.

Tekanan jual yang deras menghantam Sterling Financial Holdings Plc di bursa Nigeria, Jumat lalu, setelah perusahaan induk perbankan itu merilis laporan keuangan semester pertama tahun fiskal 2026 yang mengecewakan investor. Harga saham grup tersebut ambrol 7% dalam sehari, dari N8,05 menjadi N7,50, dengan volume transaksi mencapai 35,8 juta lembar senilai N285,1 miliar.
Koreksi harga terjadi meski Sterling Holdings mencatatkan lonjakan laba bersih 41% year-on-year menjadi N137,39 miliar pada periode Januari–Juni 2026. Laba sebelum pajak juga naik 20% menjadi N50,3 miliar dari N41,8 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, investor justru bereaksi negatif terhadap penurunan laba per saham (EPS) yang menjadi indikator utama profitabilitas per lembar saham.
EPS Sterling Holdings turun dari N0,88 menjadi N0,77, terdilusi oleh peningkatan jumlah saham beredar yang melonjak 39,6% menjadi 65,36 miliar lembar. Ekspansi jumlah saham itu merupakan dampak dari aksi rights issue yang dilakukan perseroan untuk memperkuat permodalan. Alih-alih menyambut baik tambahan modal, pasar justru menghukum saham karena pertumbuhan laba tidak sebanding dengan tambahan jumlah saham.
Dari sisi struktur kepemilikan, laporan keuangan juga mengungkap bahwa dua pemegang saham utama—CardinalStone Asset Management Limited dan Silverlake Investment Limited—mengalami dilusi kepemilikan. Porsi mereka turun dari 54,82% pada Desember 2025 menjadi 44,21% per Juni 2026. Hal ini menunjukkan bahwa rights issue tidak sepenuhnya diikuti oleh pemegang saham lama, sehingga mengubah komposisi pemegang saham secara signifikan.
Bagi investor di pasar modal Indonesia, kasus Sterling Holdings menjadi pengingat bahwa lonjakan laba bersih tidak selalu berdampak positif pada harga saham jika diiringi oleh dilusi EPS. Fenomena serupa kerap terjadi di Bursa Efek Indonesia saat emiten melakukan rights issue atau private placement tanpa diimbangi pertumbuhan laba yang proporsional. Analis menyarankan investor untuk mencermati perubahan jumlah saham beredar dan EPS sebelum mengambil keputusan.
Sterling Holdings saat ini memiliki kapitalisasi pasar sekitar N494,5 miliar dengan free float 25,29%, yang masih memenuhi ketentuan bursa untuk perusahaan papan utama. Namun, sentimen negatif jangka pendek diperkirakan masih akan membebani saham, mengingat level support N8 telah jebol dan harga kini 20% di bawah level tertinggi 52 minggu. Pertanyaan yang mengemuka: akankah manajemen melakukan buyback atau strategi lain untuk memulihkan kepercayaan investor?



