Italia dan AS Akhiri Ketegangan, Teken Pakta Rantai Pasok AI
Baca dalam 60 detik
- Pax Silica merupakan inisiatif Departemen Luar Negeri AS untuk mengamankan rantai pasok AI bersama negara sekutu.
- Penandatanganan sempat tertunda akibat ketegangan diplomatik antara Perdana Menteri Italia dan Presiden AS.
- Kesepakatan ini berpotensi mempengaruhi akses Indonesia terhadap teknologi semikonduktor dan AI global.

Pemerintah Italia dan Amerika Serikat akhirnya menandatangani perjanjian kerja sama dalam inisiatif Pax Silica, sebuah langkah strategis untuk mengamankan rantai pasok kecerdasan buatan (AI) di tengah ketegangan diplomatik yang sempat memanas. Penandatanganan yang dijadwalkan berlangsung di Brindisi, Italia selatan, pada Jumat (29/7) ini menandai babak baru dalam aliansi teknologi antara kedua negara.
Pax Silica adalah program yang digagas Departemen Luar Negeri AS untuk menyatukan negara-negara sekutu dalam mengamankan rantai pasok AI, mulai dari semikonduktor, mineral kritis, manufaktur canggih, hingga model AI. Duta Besar Italia untuk AS, Armando Varricchio, dan Duta Besar AS untuk Italia, Tilman Fertitta, akan menandatangani dokumen kerja sama tersebut. Kementerian Luar Negeri Italia menyatakan tujuan inisiatif ini adalah menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan sektor-sektor kunci dan mengurangi ketergantungan pada negara pengekspor.
Penundaan penandatanganan sebelumnya terjadi setelah Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, membatalkan perjalanan ke Miami pada Juni lalu. Pembatalan itu dipicu oleh ketegangan publik antara Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni dan Presiden AS Donald Trump, di mana Washington menuduh Roma kurang mendukung dalam perang melawan Iran. Kini, dengan ditandatanganinya kesepakatan ini, kedua negara menunjukkan komitmen untuk memulihkan hubungan dan bekerja sama dalam bidang teknologi strategis.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi penting. Sebagai negara yang tengah gencar mengembangkan ekosistem AI dan industri semikonduktor, Indonesia perlu mencermati arah aliansi global semacam Pax Silica. Ketergantungan pada rantai pasok yang dikuasai oleh negara-negara tertentu dapat menjadi celah kerentanan. Langkah Italia dan AS untuk memperkuat kerja sama justru bisa membuka peluang bagi Indonesia untuk menjalin kemitraan strategis, terutama dalam hal transfer teknologi dan investasi di sektor mineral kritis yang dimiliki Indonesia.
Menurut analis kebijakan teknologi dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia, inisiatif seperti Pax Silica menunjukkan bahwa keamanan rantai pasok AI kini menjadi prioritas geopolitik. โIndonesia harus proaktif membangun jejaring dengan negara-negara yang terlibat, agar tidak tertinggal dalam persaingan global,โ ujarnya. Selain itu, Indonesia juga perlu memperkuat regulasi dan infrastruktur dalam negeri untuk menarik investasi di bidang semikonduktor dan AI.
Ke depan, kesepakatan ini diperkirakan akan mendorong negara-negara lain, termasuk di Asia Tenggara, untuk merumuskan strategi serupa. Pertanyaannya, akankah Indonesia mampu memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisinya dalam rantai pasok AI global, atau justru semakin terpinggirkan oleh blok-blok teknologi yang semakin eksklusif?



