Piala Dunia 2026: Wasit Berbaju Pink, Penghormatan untuk Miami
Baca dalam 60 detik
- Wasit Italia Maurizio Mariani akan memakai jersey pink flamingo saat memimpin laga Uruguay vs Arab Saudi di Miami, sebagai bentuk apresiasi FIFA kepada kota tuan rumah.
- Langkah ini merupakan bagian dari tradisi FIFA untuk menghormati budaya lokal selama turnamen, setelah sebelumnya wasit mengenakan warna khas negara tuan rumah.
- Keputusan ini menunjukkan perhatian FIFA terhadap detail dan pengalaman penggemar, sekaligus memperkuat citra Miami sebagai kota ikonik dengan warna pink sebagai identitasnya.

Wasit Italia Maurizio Mariani akan memimpin pertandingan Grup H antara Uruguay dan Arab Saudi di Piala Dunia 2026 dengan mengenakan jersey berwarna pink flamingo, sebuah penghormatan kepada kota Miami yang menjadi markas para ofisial selama turnamen. Langkah ini diambil FIFA untuk menunjukkan apresiasi kepada kota yang telah menjadi tuan rumah bagi para wasit selama hampir dua bulan.
Warna pink memang identik dengan Miamiโdari flamingo yang menghiasi taman kota, mobil convertible Cadillac yang melintasi Ocean Drive, hingga bangunan bergaya Art Deco yang ikonik. Kini, pengaruh warna tersebut merambah ke seragam wasit. Maurizio Mariani dan timnya akan menjadi yang pertama mengenakan jersey pink dalam laga yang dijadwalkan berlangsung Senin malam waktu setempat.
Pierluigi Collina, mantan wasit legendaris Italia yang kini menjabat sebagai Kepala Ofisial Wasit FIFA, mengungkapkan bahwa ide ini lahir dari keinginan untuk memberikan pengakuan kepada Miami. "Kami pikir akan menyenangkan untuk menunjukkan penghargaan kami kepada kota tempat kami akan tinggal selama sekitar dua bulan. Kami memilih 'pink flamingo' ini sebagai bentuk pengakuan," ujarnya.
Presiden FIFA Gianni Infantino menambahkan bahwa langkah ini juga bertujuan untuk memberikan senyuman kepada kota yang menjadi tuan rumah. "Pink adalah warna Miami, dan kami ingin memberikan sedikit sorakan, sedikit senyuman kepada kota yang menyambut kami," katanya. Keputusan ini menunjukkan perhatian FIFA terhadap detail dan pengalaman penggemar, sekaligus memperkuat citra Miami sebagai kota ikonik.
Bagi Indonesia, momen ini bisa menjadi inspirasi dalam penyelenggaraan event olahraga internasional. Ketika Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-17 atau event FIFA lainnya, penggunaan atribut lokal seperti warna atau motif khas daerah bisa menjadi cara untuk mempromosikan budaya dan pariwisata. Langkah FIFA di Miami menunjukkan bahwa detail kecil seperti seragam wasit bisa menjadi alat diplomasi budaya yang efektif.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah tradisi ini akan berlanjut di edisi-edisi Piala Dunia berikutnya. Akankah wasit di turnamen mendatang juga mengenakan warna khas kota tuan rumah? Ataukah ini hanya gimmick sesaat? Yang jelas, langkah FIFA kali ini berhasil mencuri perhatian dan menambah warna tersendiri dalam gelaran Piala Dunia 2026.



