Steven Moreira: Dari Ragu ke Bangga, Membela Cabo Verde di Panggung Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Bek kanan Steven Moreira akhirnya mewujudkan mimpi membela Cabo Verde di Piala Dunia 2026, setelah sempat ragu karena kekhawatiran sang ibu.
- Keputusan Moreira beralih dari timnas Prancis ke Cabo Verde pada 2023 membawa dampak besar, tidak hanya bagi kariernya tetapi juga bagi promosi pariwisata negara kepulauan itu.
- Cabo Verde siap bersaing di Grup D melawan Spanyol, Arab Saudi, dan Uruguay, dengan target lolos dari fase grup, bukan sekadar menjadi peserta.
Ketika lagu kebangsaan Cabo Verde berkumandang di Atlanta pada laga pembuka Piala Dunia 2026 melawan Spanyol, Steven Moreira akan menatap tribune dan melihat keluarganya tersenyum bangga. Perjalanan bek kanan berusia 31 tahun itu menuju panggung terbesar sepak bola dunia penuh liku, dimulai dari keraguan seorang ibu hingga akhirnya menjadi simbol kebanggaan nasional.
Lahir di Prancis dan pernah membela tim nasional muda Prancis, Moreira mengakui keputusannya pada 2023 untuk mewakili Cabo Verde—negara asal ibunya—sempat menimbulkan kekhawatiran di rumah. “Saat saya kecil, saya pernah mengunjungi Cabo Verde, dan ibu saya merasa negara itu belum aman,” ungkapnya kepada FIFA. “Ketika saya bilang akan menerima panggilan timnas, dia khawatir. Tapi setelah panggilan pertama, seluruh keluarga meneleponnya, dan dia malah berkata, ‘Sudah kubilang, kamu harus pergi,’” kenang Moreira sambil tersenyum.
Ketertarikan federasi Cabo Verde terhadap Moreira sebenarnya sudah dimulai sejak ia berusia 18 atau 19 tahun. “Mereka terus mengirim pesan, menelepon, dan menghubungi keluarga serta teman-teman saya,” katanya. Namun, saat itu ia masih berada di sistem pembinaan muda Prancis dan merasa belum tepat untuk beralih. Titik balik terjadi setelah ia bergabung dengan Columbus Crew di Major League Soccer (MLS). “Saya merasa waktunya tepat. Mereka masih terus menghubungi, bahkan rekan setim masa depan ikut merayu. Suatu hari, saya memutuskan untuk menerima,” ujarnya.
Keputusan itu membawa Moreira ke Piala Afrika (AFCON) dan kemudian ke Piala Dunia—pencapaian yang ia sebut sebagai momen terbesar dalam kariernya. Namun, dampaknya tidak hanya personal. “Kami menempatkan Cabo Verde di peta dunia. Orang-orang akan datang mengunjungi kepulauan kami dan mengenal lebih dalam. Itu mengubah segalanya,” tegasnya. Bagi Indonesia, kisah Moreira relevan mengingat banyaknya pemain diaspora yang memperkuat tim nasional, seperti halnya pemain keturunan yang membela Garuda. Fenomena ini menunjukkan bagaimana sepak bola menjadi jembatan identitas dan kebanggaan nasional.
Perjalanan menuju Piala Dunia tidak mudah. Dalam laga kualifikasi melawan Libya, Cabo Verde sempat tertinggal 3-1 dan mencetak gol keempat yang dianulir karena offside. “Saat itu Anda berpikir, ‘Ini mimpi yang ingin kami wujudkan,’ lalu rasanya mimpi itu direnggut,” kenang Moreira. Namun, kemenangan 3-0 atas Eswatini memastikan tiket ke Amerika Serikat, memicu perayaan nasional yang tak terlupakan. “Setelah peluit akhir, suporter membanjiri lapangan. Saya rasa saat itu kami belum sepenuhnya menyadari besarnya pencapaian ini,” tambahnya.
Di Grup D, Cabo Verde akan menghadapi juara Eropa Spanyol, Arab Saudi, dan Uruguay. Moreira menegaskan timnya tidak datang sebagai pelengkap. “Kami ingin lolos dari fase grup. Kami datang untuk bersaing,” ujarnya. Laga perdana melawan Spanyol di Atlanta akan menjadi ujian berat, apalagi jika ia harus berhadapan dengan Nico Williams dan Lamine Yamal—dua bintang muda Spanyol yang tengah berjuang pulih dari cedera. Namun, Moreira tidak gentar. “Saat bermain di Prancis melawan PSG, saya sudah pernah menghadapi Mbappe dan Neymar. Ini bukan hal baru. Saya harus percaya diri,” katanya.
Dukungan juga datang dari negara-negara berbahasa Portugis, terutama Brasil. “Ada hubungan budaya. Kami berbicara bahasa yang sama dan menyukai sepak bola menyerang. Seorang teman yang bermain di Brasil bilang kami akan mendapat banyak dukungan dari rakyat Brasil,” ungkap Moreira. Dengan semangat itu, Cabo Verde—julukan Blue Sharks—siap berenang di perairan asing. Bagi Moreira, sebelum kick-off, ia hanya perlu mencari satu sosok di tribune: ibunya, yang dulu khawatir, kini akan menonton dengan penuh kebanggaan.
Pertanyaan besarnya: mampukah Cabo Verde membuat kejutan di Piala Dunia 2026, seperti yang dilakukan Kosta Rika pada 2014 atau Senegal pada 2002? Ataukah pengalaman pertama ini akan menjadi batu loncatan bagi generasi emas berikutnya?



