Pergantian Kilat: 28 Hari Jabatan Oposisi Malaysia, Rekor Terpendek?
Baca dalam 60 detik
- Ahmad Samsuri hanya menjabat 28 hari sebagai Pemimpin Oposisi Malaysia, diduga rekor terpendek dalam sejarah parlemen.
- PAS memutuskan mempertahankan Hamzah Zainudin, membalikkan keputusan koalisi Perikatan Nasional yang baru sebulan lalu.
- Ketidakjelasan alasan di balik perubahan ini memicu spekulasi tentang dinamika internal koalisi oposisi Malaysia.

Kursi pimpinan oposisi di Parlemen Malaysia baru saja mencatatkan babak singkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Datuk Seri Dr Ahmad Samsuri Mokhtar, yang juga Menteri Besar Terengganu, hanya bertahan 28 hari dalam jabatan tersebut setelah partai Islam PAS memutuskan untuk mengembalikan posisi itu kepada Datuk Seri Hamzah Zainudin.
Keputusan mengejutkan ini diumumkan langsung oleh Presiden PAS, Tan Sri Abdul Hadi Awang, dalam acara Konvensi Reset di Tanah Merah, Kelantan, Sabtu (13/6). Hadi menyatakan bahwa partainya sepakat mempertahankan Hamzah sebagai pemimpin oposisi, sementara Ahmad Samsuri tetap menjabat sebagai Ketua Perikatan Nasional (PN).
Perubahan haluan ini terjadi hanya sebulan setelah PN melalui sekretaris jenderalnya, Datuk Seri Takiyuddin Hassan, mengumumkan pada 16 Mei bahwa Ahmad Samsuri ditunjuk menggantikan Hamzah. Saat itu, Hamzah baru saja dipecat dari Partai Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu), sehingga koalisi oposisi memutuskan perlu figur baru untuk memimpin blok oposisi di parlemen.
Yang menarik, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari Majelis Tertinggi PN apakah keputusan 16 Mei telah secara formal dicabut. Ketidakjelasan ini menimbulkan pertanyaan tentang mekanisme pengambilan keputusan dalam koalisi yang terdiri dari PAS dan Bersatu. Apakah keputusan awal diambil tanpa konsensus penuh, atau ada tekanan internal yang mengubah arah?
Bagi pengamat politik Malaysia, pergantian cepat ini mencerminkan dinamika rapuh dalam PN. PAS, sebagai partai dengan kursi terbanyak di koalisi, tampaknya memiliki pengaruh dominan. Keputusan sepihak Hadi untuk mengembalikan Hamzah tanpa koordinasi dengan pimpinan PN lainnya bisa memicu ketegangan baru. Di sisi lain, Hamzah yang sebelumnya dipecat dari Bersatu kini kembali memimpin oposisi, menunjukkan bahwa loyalitas personal masih menjadi faktor kuat.
Implikasi bagi parlemen Malaysia ke depan patut dicermati. Dengan kepemimpinan oposisi yang berganti dalam waktu singkat, efektivitas pengawasan terhadap pemerintah bisa terganggu. Apakah Hamzah akan mampu menyatukan kembali blok oposisi yang sempat terpecah? Atau justru peristiwa ini menjadi awal dari perpecahan lebih dalam di PN?
Pertanyaan lain yang mengemuka: apakah masa jabatan 28 hari ini benar-benar rekor terpendek dalam sejarah parlemen Malaysia? Data parlemen menunjukkan beberapa pergantian cepat pernah terjadi, namun belum ada yang sesingkat ini. Jika dikonfirmasi, ini akan menjadi catatan kelam bagi stabilitas politik oposisi Malaysia.

