Jessica Simpson Buka Suara: Tekanan Berat Badan di Industri Musik Lebih Kejam dari yang Dibayangkan
Baca dalam 60 detik
- Jessica Simpson mengaku label rekaman memintanya menurunkan 15 pon saat berat badannya hanya 115 pon pada usia 17 tahun.
- Tekanan untuk tampil sempurna diperparah dengan tuntutan memiliki perut six-pack di album keduanya, yang diakuinya tidak sesuai dengan bentuk tubuhnya.
- Setelah 15 tahun vakum, Simpson kembali bermusik dengan kendali penuh atas karyanya, menandai babak baru dalam kariernya.

Penyanyi dan aktris Jessica Simpson mengungkapkan pengalaman pahitnya di awal karier, di mana ia harus berjuang melawan tekanan untuk menurunkan berat badan demi bersaing dengan Britney Spears dan Christina Aguilera. Dalam sebuah konser di Bethlehem, Pennsylvania, Kamis (26/6) lalu, Simpson menceritakan bagaimana label rekaman memintanya mengubah penampilan fisik meskipun ia yakin bakat vokalnya yang menjadi alasan ia direkrut.
Simpson, yang kini berusia 45 tahun, mengaku bahwa saat berusia 17 tahun dan memiliki berat badan 115 pon (sekitar 52 kg), ia diminta untuk menurunkan 15 pon (hampir 7 kg). "Bagi seorang remaja 17 tahun, itu adalah permintaan yang sangat berat," ujarnya di hadapan penonton. Permintaan itu, menurut Simpson, muncul karena label ingin ia mengikuti jejak dua diva pop yang sedang naik daun saat itu, Britney Spears dan Christina Aguilera.
Tekanan tersebut tidak berhenti di album pertamanya. Memasuki album kedua, Irresistible (2001), tuntutan berubah menjadi lebih ekstrem. Simpson diminta memiliki perut six-pack—sesuatu yang ia sadari tidak mungkin dicapai dengan bentuk tubuhnya. "Saya tidak terlahir seperti itu. Perut saya sedikit buncit," katanya jujur. Perasaan gagal pun menghantuinya. "Saya selalu merasa tidak pernah cukup baik," tambahnya.
Kisah Simpson bukanlah hal yang asing di industri hiburan, terutama di era 1990-an dan 2000-an, ketika standar kecantikan yang ketat kerap memicu gangguan makan dan masalah citra tubuh di kalangan selebriti. Di Indonesia, fenomena serupa juga kerap terjadi, di mana artis dan penyanyi dituntut untuk memiliki tubuh ideal menurut standar industri, meskipun perlahan mulai ada pergeseran menuju penerimaan keragaman bentuk tubuh.
Meski masa lalu kelam itu membekas, Simpson mengaku memiliki kenangan indah dari awal kariernya. "Saya bersenang-senang, dan saya tahu saya berada di momen yang tepat pada waktu yang tepat. Saya belajar banyak," katanya. Setelah vakum selama 15 tahun, ia merasa mendapatkan kembali kendali atas hidupnya saat mengerjakan EP dua bagian, Nashville Canyon, yang dirilis tahun lalu. "Saya akan melakukan ini dengan cara saya sendiri. Saya ingin menulis semuanya; saya punya banyak pikiran dan banyak hal untuk dikatakan," tegasnya.
Kini, Simpson menikmati panggung di usia 40-an. "Rasanya seperti kembali ke rumah. Berjalan di atas panggung bahkan lebih nyaman daripada ruang tamu saya sendiri," ujarnya. Pertanyaan yang tersisa: akankah industri musik global—termasuk Indonesia—belajar dari masa lalu dan memberikan ruang yang lebih sehat bagi para artis muda tanpa harus mengorbankan kesehatan fisik dan mental mereka?



