Pendapatan Rekor Tak Cukup: SIA Cetak Rugi Kuartalan Akibat Bahan Bakar dan Beban Air India
Baca dalam 60 detik
- Singapore Airlines membukukan rugi bersih S$76 juta pada Q1 2026, pertama sejak pandemi, meski pendapatan rekor S$5,71 miliar.
- Lonjakan 78,5% biaya bahan bakar akibat konflik Timur Tengah dan kerugian Air India yang membengkak menjadi penyebab utama.
- Transformasi Air India diperkirakan memakan waktu hingga satu dekade, menambah tekanan pada strategi multi-hub SIA.

Singapore Airlines (SIA) mencatat kerugian bersih sebesar S$76 juta pada kuartal pertama tahun fiskal 2026, membalikkan laba S$186 juta pada periode yang sama tahun lalu. Ini adalah defisit kuartalan pertama grup tersebut sejak pandemi COVID-19 berakhir, menurut Reuters.
Pendapatan rekor S$5,71 miliar—naik 19,3% dari tahun sebelumnya—gagal menutup lonjakan biaya bahan bakar yang melonjak 78,5% menjadi S$2,25 miliar, terutama dipicu oleh konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Operasional profit pun merosot S$299 juta menjadi hanya S$106 juta.
Kerugian dari Air India, maskapai yang 25,1% sahamnya dimiliki SIA, juga membebani. SIA mencatat peningkatan kerugian sebesar S$42 juta dari investasi tersebut. Air India sendiri baru saja melaporkan kerugian tahunan US$2 miliar, dan induknya Tata Sons mengakui bahwa proses pemulihan bisa memakan waktu hingga satu dekade karena gangguan rantai pasok, sistem warisan yang usang, serta kebutuhan merekrut dan melatih tenaga kerja besar.
Meskipun demikian, SIA dan Scoot berhasil mengangkut rekor 10,9 juta penumpang—naik 6,3%—dengan pendapatan penumpang meningkat 18,6% menjadi S$4,58 miliar. Permintaan perjalanan udara tetap kuat, terutama di rute Asia, tetapi tingginya biaya operasional menggerus margin.
Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi pengingat bahwa maskapai domestik seperti Garuda Indonesia dan Lion Air juga rentan terhadap gejolak harga minyak. Meskipun Garuda belum melaporkan kerugian kuartalan, biaya bahan bakar biasanya menyumbang 30–40% dari total beban operasional. Jika konflik Timur Tengah terus berlanjut, tekanan serupa bisa dialami maskapai di kawasan, termasuk yang melayani rute haji dan umrah.
CEO SIA Goh Choon Phong sebelumnya menyebut transformasi Air India sebagai "permainan panjang tanpa jalan pintas". SIA menegaskan komitmennya bersama Tata Sons untuk membalikkan kinerja Air India melalui peremajaan armada, peningkatan layanan, dan efisiensi operasional. Namun, dengan tenggat pemulihan yang diperpanjang, investor mulai mempertanyakan kapan investasi itu akan memberikan imbal hasil.
Ke depan, tekanan biaya bahan bakar diperkirakan tetap tinggi seiring ketidakpastian geopolitik. SIA harus menyeimbangkan pertumbuhan pendapatan dengan efisiensi biaya, sementara nasib Air India menjadi variabel yang sulit diprediksi. Apakah strategi multi-hub SIA masih relevan di tengah badai biaya yang berkepanjangan?



