El Nino Diprediksi Bertahan hingga 2027, Jakarta Masih Diselimuti Awan Tebal
Baca dalam 60 detik
- BMKG memperkirakan El Nino bertahan hingga awal 2027 dengan probabilitas 75 persen dalam kategori sangat kuat, menekan curah hujan hingga Oktober 2026.
- Seluruh wilayah Jakarta diperkirakan berawan tebal pada Rabu pagi, dengan potensi hujan ringan di selatan dan timur pada sore hari.
- Puncak musim kemarau 2026 diprediksi terjadi pada Juli-September, meningkatkan risiko kekeringan yang perlu diantisipasi sejak dini.

Fenomena El Nino yang telah memicu kekeringan di berbagai wilayah Indonesia diprediksi akan bertahan hingga awal 2027, dengan peluang 75 persen masuk dalam kategori sangat kuat, menurut analisis terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Proyeksi ini mengindikasikan bahwa pengurangan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia akan berlangsung setidaknya hingga Oktober 2026, jauh melampaui perkiraan sebelumnya yang hanya bersifat sementara. Dampak langsungnya sudah terasa pada musim kemarau saat ini, yang puncaknya diperkirakan terjadi pada Juli-September 2026.
Sementara itu, pada Rabu pagi ini, seluruh wilayah Jakarta diperkirakan diselimuti awan tebal mulai pukul 10.00 WIB hingga siang hari. Menjelang sore, kondisi berawan tetap mendominasi di Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Jakarta Pusat, namun Jakarta Selatan serta Jakarta Timur berpotensi diguyur hujan ringan. Kepulauan Seribu juga diprakirakan berawan tebal sepanjang hari. Pada malam hari, seluruh wilayah Jakarta diprediksi cerah berawan. Pola cuaca ini merupakan bagian dari siklus harian yang dipengaruhi oleh awan konvektif, namun keberadaan El Nino turut memengaruhi intensitas dan distribusi hujan.
Bagi Indonesia, perpanjangan El Nino ini memiliki implikasi serius terhadap sektor pertanian, ketahanan pangan, dan ketersediaan air bersih. Daerah-daerah yang sebelumnya telah mengalami gagal panen akibat kekeringan berpotensi kembali mengalami krisis. BMKG mengimbau pemerintah daerah dan petani untuk menyiapkan strategi adaptasi, seperti penggunaan varietas tanaman tahan kering dan optimalisasi sistem irigasi. Selain itu, risiko kebakaran hutan dan lahan juga meningkat seiring dengan meluasnya wilayah kering.
Menurut analis iklim, peristiwa El Nino yang berkepanjangan seperti ini pernah terjadi pada periode 2015-2016, yang mengakibatkan kerugian ekonomi hingga puluhan triliun rupiah. Meskipun kekuatan El Nino saat ini diperkirakan sebanding, teknologi peringatan dini dan sistem mitigasi yang lebih baik diharapkan dapat mengurangi dampak negatif.
Dengan proyeksi cuaca yang masih berawan di Jakarta dan ancaman kekeringan berkepanjangan di berbagai daerah, pertanyaan kritis yang muncul adalah: sejauh mana kesiapan Indonesia menghadapi perubahan iklim ekstrem yang semakin sering terjadi? BMKG terus memantau perkembangan fenomena ini dan akan memperbarui prediksi secara berkala untuk membantu pengambilan keputusan di tingkat nasional dan lokal.



