Penghasilan Laverne Cox Anjlok 90%: Dampak Diskriminasi Institusional terhadap Komunitas Trans
Baca dalam 60 detik
- Aktris Laverne Cox kehilangan 90% pendapatannya dalam dua tahun terakhir akibat institusi enggan dianggap mendukung ideologi trans.
- Cox menyoroti bahwa diskriminasi ini tidak hanya menimpa dirinya, tetapi juga banyak individu trans lain yang kurang beruntung.
- Penurunan ini terkait dengan kebijakan seperti Project 2025 yang menghapus istilah terkait gender dan LGBTQ dari dokumen pemerintah.

Penghasilan Laverne Cox, aktris yang dikenal melalui perannya di serial Orange is the New Black, merosot hingga 90% dalam dua tahun terakhir. Kondisi ini dipicu oleh kekhawatiran institusi—dari kampus hingga perusahaan—untuk tidak terlihat "mempromosikan ideologi trans" di tengah iklim politik yang kian tidak bersahabat.
Cox selama ini mengandalkan pemasukan dari pekerjaan sebagai pembicara publik di kampus dan perusahaan, duta merek, serta presenter. Namun, kontrak-kontrak itu mulai tidak diperpanjang, dan tawaran kerja mengering drastis. Dalam wawancara dengan The Guardian, ia mengungkapkan bahwa rezim saat ini mengancam akan mencabut pendanaan bagi institusi yang dianggap mendorong ideologi gender dan keberagaman. "Bahkan jika saya mengajar kelas akting pascasarjana, itu bisa dianggap sebagai promosi ideologi trans," ujarnya.
Meski pendapatannya anjlok, Cox menekankan bahwa dirinya masih merasa "diberkati" dan ingin perhatian publik tertuju pada nasib komunitas trans yang lebih rentan. "Jika pendapatan Laverne Cox turun drastis, bagaimana dengan orang trans lain yang tidak memiliki hak istimewa seperti saya?" katanya. Ia menambahkan bahwa diskriminasi dan kambing hitam ini memiliki konsekuensi material yang nyata.
Aktris berusia 54 tahun itu juga menyoroti Project 2025, sebuah cetak biru konservatif yang disusun Heritage Foundation menjelang pemilihan ulang Donald Trump. Menurut Cox, dokumen itu mengharuskan penghapusan kata-kata seperti gender, identitas gender, LGBTQ, dan DEI dari setiap kebijakan dan dokumen pemerintah. "Semua kata itu harus dihilangkan dari legislasi, kebijakan, dan dokumen pemerintah," ungkapnya.
Karier Cox melesat berkat perannya sebagai Sophia, narapidana trans di Orange is the New Black. Namun, ia mengaku tidak pernah menyangka serial itu akan begitu sukses. "Awalnya saya berharap casting director melihatnya dan saya bisa mendapat lebih banyak pekerjaan. Tapi setelah beberapa bulan, hidup saya berubah drastis—orang-orang berlari menghampiri saya di jalan, padahal dulu mereka berlari untuk menyerang saya," kenangnya.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap industri hiburan, diskriminasi struktural masih menjadi ancaman nyata. Di Indonesia, isu serupa mungkin belum sekuat di Amerika Serikat, namun tren global menunjukkan bahwa ruang bagi ekspresi gender non-biner semakin terdesak oleh kebijakan konservatif. Pertanyaan besarnya, akankah industri kreatif dan institusi pendidikan di Tanah Air ikut terpengaruh oleh gelombang ini?



