Ashley James Buka Suara soal Pemulihan Pascapersalinan: Inkontinensia Feses Bukan Hal Normal
Baca dalam 60 detik
- Ashley James mengaku hancur hati saat pemulihan pascapersalinan karena mengira inkontinensia feses adalah kondisi normal yang tidak dibicarakan.
- Bintang TV Inggris itu mendorong percakapan jujur tentang realitas keibuan dan menolak romantisisasi berlebihan yang membebani ibu.
- Ia juga mengaku menolak proyek besar karena rasa bersalah sebagai ibu, menunjukkan dilema antara karier dan pengasuhan anak.

Ashley James, presenter dan mantan bintang Made in Chelsea, mengungkapkan rasa sakit hatinya saat menjalani pemulihan pascapersalinan setelah melahirkan anak pertamanya. Ia mengira inkontinensia feses—ketidakmampuan mengontrol buang air besar—adalah hal yang wajar, hingga seorang fisioterapis mengatakan sebaliknya.
Perempuan 39 tahun yang juga dikenal sebagai pembawa acara This Morning itu melahirkan putra pertamanya, Alfie, pada Januari 2021 bersama pasangannya, Tommy Andrews. Kini ia juga memiliki putri berusia tiga tahun, Ada. Dalam wawancara dengan Women’s Health UK edisi Juli/Agustus, James mengaku baru sadar setelah tiga bulan mengalami inkontinensia dan bertanya kepada fisioterapis kapan kondisinya akan berhenti. Jawaban sang ahli mengejutkannya: "Itu tidak normal."
James menyerukan perlunya percakapan yang lebih jujur tentang realitas menjadi ibu. Menurutnya, masyarakat terlalu meromantisasi keibuan sehingga para ibu tidak siap menghadapi tantangan nyata. "Ketika Anda bicara tentang perjuangan menjadi ibu, perasaan menyesal atau putus asa, orang berkata, 'Apa kata anak-anakmu nanti?' Tapi mungkin jika kita tidak terlalu meromantisasi, kita akan membekali orang lebih baik untuk menghadapinya," ujarnya.
James juga menyoroti tekanan berlebihan yang dihadapi ibu. "Ada terlalu banyak tekanan pada seorang ibu untuk menyelesaikan semuanya sendiri, lalu jika mereka mengeluh, dibilang tidak mencintai anaknya," katanya. Ia mendorong perempuan untuk bersuara dan menantang ekspektasi sosial yang usang. "Ketika perempuan menggunakan suaranya, itu adalah perlawanan, bahkan jika hanya berbicara dengan teman. Semakin banyak kita bicara, semakin membantu orang lain untuk membongkar ide-ide ini, baik tentang ekspektasi tubuh maupun standar ganda."
Di Indonesia, isu kesehatan mental ibu pascapersalinan masih kerap dianggap tabu. Banyak ibu baru enggan berkonsultasi ke tenaga medis karena menganggap keluhan seperti inkontinensia atau baby blues adalah hal biasa. Padahal, data Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 10-15% ibu mengalami depresi pascapersalinan, dan angka ini mungkin lebih tinggi karena underreporting. Kisah James menjadi pengingat bahwa dukungan medis dan sosial sangat penting, serta bahwa ibu tidak harus menanggung beban sendirian.
Pada Agustus lalu, James mengaku menolak tawaran proyek besar karena merasa bersalah sebagai ibu. Ia menjelaskan bahwa kesibukannya membuat ia melewatkan waktu tidur anak-anaknya, yang berdampak pada kecemasan berpisah pada Alfie. "Saya harus mengatakan tidak pada beberapa hal besar agar bisa menghabiskan waktu berkualitas dengan anak saya," ujarnya. Keputusan ini mencerminkan dilema yang dihadapi banyak ibu bekerja: antara mengejar karier dan memenuhi kebutuhan emosional anak.
Ke depan, pertanyaannya adalah: apakah masyarakat siap mengubah narasi tentang keibuan? Atau akankah ibu-ibu terus berjuang dalam diam, seperti yang dialami James selama tiga bulan pertama? Yang jelas, suara para ibu perlu didengar, dan dukungan nyata—bukan sekadar romantisisasi—adalah kunci.



