DPR Beri Lampu Hijau untuk Anggaran Riset BRIN: Inovasi Harus Tepat Sasaran
Baca dalam 60 detik
- Komisi X DPR RI mendukung penuh usulan penguatan anggaran BRIN untuk modernisasi laboratorium dan fasilitas riset nasional.
- DPR menekankan riset BRIN harus fokus pada kebutuhan mendesak seperti diabetes dan tetap berkelanjutan lintas kepemimpinan.
- BRIN memaparkan sejumlah inovasi prioritas, termasuk padi biosalin dan teknologi peredam gempa, yang siap dihilirisasi.

Dewan Perwakilan Rakyat memberikan sinyal kuat untuk memperkuat pendanaan riset nasional setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional memaparkan sederet terobosan yang dinilai mampu menjawab persoalan konkret bangsa, mulai dari ketahanan pangan hingga mitigasi bencana.
Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi X DPR RI di Jakarta, Kepala BRIN Arif Satria membeberkan sejumlah prioritas riset yang tidak lagi berorientasi pada publikasi semata, melainkan pada hilirisasi produk teknologi. Ia menegaskan bahwa riset harus menjadi solusi nyata, bukan sekadar tumpukan kertas. "BRIN hadir untuk menyelesaikan persoalan riil di masyarakat, mulai dari mitigasi bencana, ketahanan pangan, hingga transisi energi berkelanjutan. Inovasi kita harus berdampak langsung," ujarnya di Jakarta, Kamis (12/6).
Di antara inovasi yang dipaparkan, BRIN memperkenalkan varietas padi Biosalin yang toleran terhadap salinitas tinggi, sebuah terobosan untuk mendukung kedaulatan pangan di lahan marginal. Di sektor mitigasi bencana, lembaga ini mengembangkan teknologi peredam gempa yang dirancang untuk meningkatkan resiliensi infrastruktur di wilayah rawan gempa. Sementara itu, fasilitas pengolah sampah menjadi energi listrik terus didorong implementasinya guna menjawab tantangan tata kelola perkotaan dan energi baru.
Menanggapi paparan tersebut, anggota dewan memberikan sejumlah catatan kritis. Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah, menekankan pentingnya kesinambungan program riset agar tidak terhenti akibat pergantian kepemimpinan. "Inovasi BRIN harus terus berkelanjutan dan pantang terhenti di tengah jalan," tegasnya. Selain itu, DPR mendesak agar riset difokuskan pada kebutuhan mendesak masyarakat, khususnya di bidang kesehatan. Secara spesifik, BRIN diminta memberikan perhatian lebih pada riset pengobatan diabetes, mengingat tingginya jumlah penderita di Indonesia.
DPR juga mengingatkan bahwa penerapan teknologi hasil riset di lapangan harus mempertimbangkan pendekatan sosiologi masyarakat. Hal ini penting untuk menghindari resistensi budaya dan memastikan inovasi benar-benar dapat dimanfaatkan oleh publik. "Inovasi yang lahir harus tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat," ujar Hetifah.
Untuk mendukung berbagai target tersebut, Arif Satria mengajukan usulan penguatan anggaran yang difokuskan pada modernisasi fasilitas laboratorium dan revitalisasi infrastruktur vital nasional, termasuk fasilitas ketenaganukliran untuk keperluan energi, industri, dan kesehatan. Menurutnya, tanpa infrastruktur yang mumpuni, daya saing peneliti Indonesia di kancah global akan tergerus.
Komisi X DPR RI menyambut positif usulan tersebut. Hetifah secara tegas menyatakan bahwa alokasi pendanaan untuk riset harus dipandang sebagai investasi fundamental jangka panjang, bukan sekadar beban pengeluaran. "Riset dan inovasi adalah hal yang sangat penting untuk pembangunan nasional. Kami mendukung penguatan anggaran BRIN," ujarnya. Sebagai bentuk pengawasan, Komisi X berencana melakukan kunjungan lapangan untuk melihat langsung implementasi inovasi BRIN.
Ke depan, tantangan terbesar BRIN adalah memastikan agar seluruh inovasi yang dihasilkan tidak hanya berhenti pada tahap prototipe, tetapi benar-benar terintegrasi dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Pertanyaannya, mampukah BRIN menjaga momentum ini di tengah keterbatasan anggaran dan dinamika politik?



