Pirlo Blak-blakan: Italia Gagal ke Piala Dunia Akibat Krisis Teknikal, Ada yang Tak Suka Saya
Baca dalam 60 detik
- Andrea Pirlo menilai absennya Italia dari tiga edisi Piala Dunia beruntun disebabkan oleh merosotnya kualitas teknik pemain, bukan faktor taktik semata.
- Legenda sepak bola Italia itu juga mengisyaratkan adanya ketidaksukaan dari pihak tertentu yang memengaruhi karier kepelatihannya, meski enggan merinci.
- Pernyataan ini membuka diskusi tentang akar masalah sepak bola Italia yang selama ini lebih mengandalkan fisik dibanding penguasaan bola.

Andrea Pirlo, maestro lini tengah yang membawa Italia juara Piala Dunia 2006, buka suara mengenai kegagalan beruntun negaranya menembus putaran final Piala Dunia. Menurutnya, akar masalah bukan terletak pada taktik atau keberuntungan, melainkan pada krisis fundamental: hilangnya budaya teknikal di sepak bola Italia.
Dalam wawancara yang dikutip Football Italia, Pirlo menyebutkan bahwa Azzurri telah absen dari tiga Piala Dunia berturut-turut (2018, 2022, dan 2026 menyusul kegagalan kualifikasi). βIni bukan kebetulan. Kami kehilangan identitas teknis. Pemain muda sekarang lebih mengandalkan fisik, bukan kemampuan mengolah bola,β ujar Pirlo, yang dikenal dengan visi dan passing akuratnya.
Pirlo juga menyinggung sisi lain yang jarang dibicarakan: dinamika internal federasi. Ia mengakui bahwa dirinya sempat vakum melatih selama setahun tanpa alasan jelas. βSaya tahu kenapa, tapi lebih baik tidak saya katakan. Ada yang tidak suka dengan saya,β katanya, tanpa menyebut nama atau institusi. Pernyataan ini memicu spekulasi tentang hubungannya dengan Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) dan para petinggi klub.
Komentar Pirlo menjadi relevan di tengah perdebatan tentang masa depan sepak bola Italia. Selama ini, Serie A dikenal sebagai liga yang mengutamakan taktik dan pertahanan ketat, namun di level internasional, pendekatan tersebut mulai ditinggalkan. Negara seperti Spanyol, Jerman, dan Prancis justru unggul dalam penguasaan bola dan kreativitas individu. βKami harus kembali ke dasar: mengajarkan teknik sejak usia dini, bukan hanya berlari dan bertarung,β tegas Pirlo.
Bagi Indonesia, pelajaran dari Italia cukup gamblang. Sepak bola nasional juga kerap mengandalkan fisik dan semangat juang, namun minim sentuhan teknis. Kegagalan Italia bisa menjadi cermin bahwa pembinaan usia muda harus berorientasi pada skill individu, bukan sekadar hasil instan. PSSI dan klub-klub Liga 1 bisa mengevaluasi kurikulum akademi agar lebih menekankan penguasaan bola, passing, dan visi bermain β seperti yang dulu dilakukan Italia era Pirlo.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah FIGC melakukan reformasi struktural tanpa campur tangan politik? Atau akankah Italia terus terpuruk seperti sekarang? Pirlo sendiri memilih untuk tidak terlalu berharap. βSaya hanya bisa memberi saran, tapi keputusan ada di tangan mereka,β pungkasnya.



