Romario: Baggio Masih Membawa Beban Penalti 1994, Baresi Bek Tersulit
Baca dalam 60 detik
- Legenda Brasil Romario mengakui bahwa kegagalan penalti Roberto Baggio di final Piala Dunia 1994 masih membekas hingga kini.
- Franco Baresi dinilai sebagai bek paling sulit yang pernah dihadapi Romario sepanjang kariernya.
- Romario pesimistis dengan peluang Brasil di Piala Dunia 2026, menjagokan Prancis, Spanyol, Portugal, dan Argentina.

Legenda sepak bola Brasil, Romario, kembali mencuri perhatian dengan pernyataan jujurnya soal rivalitas klasik Brasil-Italia di Piala Dunia 1994. Dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport, ia mengakui bahwa dirinya dan rakyat Brasil berterima kasih kepada Roberto Baggio yang gagal mengeksekusi penalti di final, meski ia sadar momen itu masih menghantui sang pemain.
“Kami orang Brasil berterima kasih atas kesalahan Baggio, tapi saya tahu dia masih membawa frustrasi itu di dalam dirinya,” ujar Romario. “Sedih, karena sejak kecil ia bermimpi bermain dan memenangkan final Piala Dunia melawan Brasil.” Baggio, yang dikenal dengan julukan “Divin Codino”, menjadi kambing hitam setelah tendangan penaltinya melambung di atas gawang Cláudio Taffarel, memastikan Brasil juara untuk keempat kalinya.
Selain Baggio, Romario juga menyoroti Franco Baresi, bek legendaris Italia yang menjadi lawan paling merepotkan sepanjang kariernya. “Dia pemain paling sulit yang pernah saya hadapi. Saya tidak tahu apakah dia yang terbaik, tapi pasti yang paling sukar dihadapi,” kata Romario. Baresi, yang kini berusia 64 tahun, setahun lalu menjalani operasi pengangkatan nodul paru-paru dan menjalani imunoterapi. Romario mendoakan kesembuhannya: “Saya sangat menyesal mendengarnya, semoga Tuhan melindunginya.”
Romario juga mengomentari performa Brasil di laga perdana Piala Dunia 2026, yang berakhir imbang 1-1 melawan Maroko. Ia menilai penampilan tim sangat buruk. “Brasil bermain sangat buruk, hasil imbang itu signifikan. Maroko layak menang, mereka jelas unggul di babak pertama,” kritiknya. Ia juga menyoroti cedera Neymar yang belum pulih total, namun percaya bahwa Neymar tetap lebih baik dari penyerang lain yang diturunkan.
Meski begitu, Romario tidak optimistis Brasil bisa juara di turnamen kali ini. “Saya ingin mereka menang, tapi peluangnya kecil. Favorit saya adalah Prancis, Spanyol, Portugal, dan Argentina,” ujarnya. Pernyataan ini tentu mengejutkan publik sepak bola, mengingat Brasil selalu dianggap kandidat kuat di setiap Piala Dunia.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, rivalitas Brasil-Italia di era 1990-an menjadi nostalgia tersendiri. Momen Baggio yang tertunduk lesu setelah gagal penalti masih kerap diputar di layar kaca. Sementara itu, pelajaran dari Romario tentang pentingnya kesehatan mental atlet pasca-kegagalan besar relevan dengan perkembangan olahraga di Tanah Air. Akankah Baggio akhirnya bisa move on dari mimpi buruk 1994? Atau justru Romario yang harus merevisi prediksinya jika Brasil bangkit di Piala Dunia 2026?
