Kembalinya Mancini ke Timnas Italia: Langkah Mundur atau Lompatan Maju?
Baca dalam 60 detik
- Roberto Mancini disebut-sebut menjadi kandidat utama pelatih Italia setelah pemilihan presiden FIGC pada Juni 2026.
- Keputusan ini memicu perdebatan karena Mancini di satu sisi sukses membawa Italia juara Euro 2020, namun gagal lolos ke Piala Dunia 2022.
- FIGC dinilai perlu mempertimbangkan regenerasi kepelatihan daripada kembali pada figur lama yang kontroversial.

Kabar kembalinya Roberto Mancini ke kursi pelatih Timnas Italia kembali mencuat setelah ia meninggalkan klub Qatar, Al-Sadd. Namun, langkah ini justru memicu pertanyaan besar: apakah Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) tengah mencari solusi di tempat yang keliru?
Menurut laporan dari Fabrizio Romano dan Sky Sport Italia, Mancini menjadi favorit untuk menukangi Gli Azzurri setelah pemilihan presiden FIGC yang dijadwalkan pada 22 Juni 2026. Keputusan ini tentu tidak terlepas dari catatan prestasi dan kegagalan pelatih berusia 60 tahun tersebut. Di satu sisi, ia berhasil membawa Italia meraih gelar Euro 2020, namun di sisi lain, ia gagal membawa Italia lolos ke Piala Dunia 2022โsebuah noda hitam yang masih membekas.
Dalam episode perdana Football Italia Summer Show, komentator TNT Sports dan SiriusXM, Adam Summerton, bersama editor Lorenzo Bettoni, membahas masa depan timnas Italia. Mereka menyoroti betapa terbelahnya opini publik soal Mancini. Jajak pendapat yang dilakukan Football Italia beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa pendapat pembaca terbagi hampir sama rata antara yang mendukung dan menolak kembalinya Mancini.
Konteks Indonesia: Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kisruh kepelatihan Italia ini menjadi pelajaran berharga. Timnas Indonesia pun kerap dihadapkan pada dilema serupa: mempertahankan pelatih lama dengan segudang pengalaman atau beralih ke figur baru yang segar. Keputusan FIGC nantinya bisa menjadi tolok ukur bagaimana federasi sepak bola menyeimbangkan antara prestasi masa lalu dan kebutuhan regenerasi.
Menurut analis sepak bola, keputusan FIGC untuk kembali ke Mancini bisa diartikan sebagai langkah pragmatis. Mengingat Mancini memiliki pengalaman dan reputasi, ia dianggap mampu membawa stabilitas. Namun, kegagalannya di kualifikasi Piala Dunia 2022 menunjukkan bahwa pendekatannya mungkin sudah tidak relevan dengan perkembangan sepak bola modern. Selain itu, munculnya nama-nama pelatih muda seperti Vincenzo Italiano atau bahkan pelatih asing bisa menjadi alternatif yang lebih segar.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah FIGC akan berani mengambil risiko dengan pelatih baru, atau justru kembali ke masa lalu yang sudah terbukti pahit manisnya? Keputusan ini tidak hanya akan menentukan arah timnas Italia dalam beberapa tahun ke depan, tetapi juga menjadi cermin bagi federasi sepak bola di negara lain, termasuk Indonesia, dalam menyikapi siklus kepelatihan.
