Target 350.000 Rumah Subsidi FLPP: Optimisme di Tengah Lonjakan Realisasi
Baca dalam 60 detik
- Menteri PKP Maruarar Sirait yakin target penyaluran 350.000 unit rumah subsidi melalui FLPP pada 2026 tercapai, dengan proyek vertikal Meikarta sebagai salah satu pendorong utama.
- Realisasi FLPP menunjukkan tren naik: 228.000 unit (2023), 278.000 (2025), dan 111.537 unit per 23 Juli 2026, didominasi pekerja swasta (63,88%).
- Pemerintah memperpanjang tenor KPR FLPP dari 20 tahun menjadi 40 tahun untuk memperluas akses masyarakat berpenghasilan rendah.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait optimistis target penyaluran 350 ribu unit rumah subsidi berskema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) pada 2026 dapat direalisasikan, dengan proyek rumah susun Meikarta menjadi salah satu tumpuan.
Optimisme itu disampaikan Araโsapaan akrabnyaโdi Jakarta, Selasa, di tengah catatan realisasi FLPP yang terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. Menurut data BP Tapera, penyaluran FLPP pada 2023 mencapai 228.000 unit, naik menjadi 278.000 unit pada 2025, dan hingga pertengahan Juli 2026 sudah mencapai 111.537 unit. Angka itu menunjukkan percepatan, terutama setelah pemerintahan Prabowo Subianto berjalan satu tahun.
Ara menyebutkan, lompatan signifikan diharapkan dari proyek rumah susun subsidi, seperti Meikarta, yang masuk dalam skema FLPP. "Kita berusaha yang terbaik, lompatan itu salah satunya dari Meikarta, rumah susun subsidi," ujarnya. Baik rumah tapak maupun rumah susun subsidi merupakan bagian dari program strategis 3 Juta Rumah yang digagas pemerintah.
Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho merinci, dari 111.537 unit yang tersalurkan per 23 Juli 2026, sebanyak 71.250 unit (63,88%) dimanfaatkan oleh pekerja swasta, disusul wiraswasta 19.254 unit (17,26%), serta PNS/TNI/Polri 10.944 unit (9,81%). Sisanya 10.089 unit (9,05%) masuk kategori lain. Heru menegaskan, BP Tapera terus memperluas akses kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) melalui program KPR Sejahtera FLPP.
Kebijakan terbaru yang diyakini mendongkrak penyerapan adalah perpanjangan tenor KPR FLPP dari maksimal 20 tahun menjadi hingga 40 tahun. Langkah ini diharapkan meringankan cicilan bulanan bagi MBR. "Dengan kebijakan itu, akses pembiayaan perumahan akan semakin luas dan mendukung 3 Juta Rumah," kata Heru.
Bagi Indonesia, program FLPP menjadi instrumen kunci mengurangi backlog perumahan yang masih mencapai belasan juta unit. Meski optimisme mengemuka, tantangan tetap ada, mulai dari daya serap di daerah, ketersediaan lahan, hingga disparitas harga. Pertanyaannya, akankah target 350.000 unit pada 2026 benar-benar terealisasi di tengah tekanan inflasi dan suku bunga?



