Kiefer Sutherland Balas Gugatan Pengemudi Uber: Tuduhan Dipelintir Demi Uang
Baca dalam 60 detik
- Aktor Kiefer Sutherland membantah tuduhan mencekik sopir Uber dan mengancam akan membunuhnya, menyebut klaim tersebut sebagai distorsi demi keuntungan finansial.
- Pengemudi Rafael Manvelyan menggugat Sutherland atas tuduhan penyerangan, pencekikan, dan penderitaan emosional, dengan bukti rekaman dashcam yang belum dirilis.
- Kasus ini menyoroti potensi penyalahgunaan gugatan terhadap selebritas, serta pentingnya verifikasi fakta di era media sosial.

Bintang serial 24 dan Designated Survivor, Kiefer Sutherland, memastikan dirinya tidak akan tinggal diam menghadapi gugatan hukum yang diajukan oleh seorang pengemudi Uber. Melalui juru bicaranya, ia menegaskan bahwa tuduhan kekerasan fisik dan ancaman pembunuhan yang dilayangkan kepadanya hanyalah rekayasa yang dibesar-besarkan demi mendapatkan kompensasi jutaan dolar.
Gugatan tersebut diajukan oleh Rafael Manvelyan, sopir Uber yang mengaku menjadi korban amukan Sutherland pada Januari lalu. Menurut dokumen pengadilan yang diperoleh TMZ, Manvelyan—yang fasih berbahasa Rusia dan Armenia—menuduh Sutherland dalam kondisi mabuk saat naik taksi daringnya. Ketegangan disebut muncul karena kesulitan komunikasi, yang kemudian berujung pada aksi kekerasan.
Dalam gugatannya, Manvelyan mengklaim bahwa Sutherland memukul kepalanya dengan tangan terkepal, mencekiknya, dan bahkan mengejarnya sambil berteriak “Saya akan bunuh kau” setelah ia keluar dari kendaraan. Ia juga menyebutkan bahwa rekaman dashcam dan saksi mata dapat menguatkan kesaksiannya. Akibat kejadian itu, ia mengaku menderita luka di kepala, wajah, leher, tulang belakang, dan bahu.
Sikap Sutherland tegas. Juru bicaranya menyatakan bahwa sang aktor justru menjadi korban dari upaya pemerasan setelah identitasnya diketahui. “Kiefer tidak punya minat untuk memberi imbalan kepada seseorang yang memelintir fakta demi keuntungan besar,” ujar sang jubir kepada Us Weekly. Pihak Sutherland juga mengklaim bahwa sopir tersebut menolak bantuan medis di tempat kejadian, namun kemudian justru memperbesar klaim cedera setelah mengetahui status selebritas penumpangnya.
Di sisi lain, pengacara Manvelyan, Mitra Sabouri, menegaskan bahwa kliennya adalah warga biasa yang tidak mencari publisitas. “Kami akan membiarkan fakta dan bukti berbicara di pengadilan,” katanya. Ia juga menolak merilis rekaman dashcam demi privasi kliennya.
Kasus ini mengingatkan publik pada pentingnya kehati-hatian dalam menilai tuduhan yang melibatkan figur publik. Di Indonesia, fenomena serupa kerap terjadi di mana gugatan terhadap selebritas sering kali diwarnai tudingan pencitraan atau upaya mencari keuntungan. Meski demikian, prinsip praduga tak bersalah tetap harus dijunjung hingga ada putusan hukum yang berkekuatan tetap.
Ke depannya, pertanyaan besar masih menggantung: akankah rekaman dashcam yang menjadi kunci pembuktian akhirnya dirilis? Ataukah kasus ini akan berakhir dengan penyelesaian di luar pengadilan seperti banyak gugatan selebritas lainnya? Publik menanti langkah selanjutnya dari kedua belah pihak.



