Mark Gordon Pensiun Setelah 22 Tahun, Treyarch Tunjuk Dua Studio Head Baru
Baca dalam 60 detik
- Mark Gordon, pemimpin Treyarch selama 22 tahun, resmi pensiun dari jabatan Studio Head.
- Kevin Hendrickson dan Yale Miller, veteran Call of Duty, ditunjuk sebagai Co-Studio Heads untuk melanjutkan kepemimpinan.
- Pergantian ini terjadi di tengah persiapan Treyarch menggarap seri Black Ops mendatang.

Mark Gordon, tokoh di balik kesuksesan waralaba Call of Duty: Black Ops, resmi meninggalkan kursi Studio Head Treyarch setelah mengabdi selama 22 tahun. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh studio yang berbasis di Santa Monica, California, melalui pernyataan resmi pada pekan ini.
Gordon dikenal sebagai arsitek utama yang membawa Treyarch dari pengembang pendukung menjadi salah satu studio paling disegani di industri gim. Di bawah kepemimpinannya, Treyarch melahirkan sederet judul ikonik seperti Call of Duty 2: Big Red One, Call of Duty 3, World at War, dan seluruh seri Black Ops. Kontribusinya dinilai tak terukur dalam membentuk arah waralaba Call of Duty selama dua dekade terakhir.
Pergantian kepemimpinan ini terjadi di saat krusial bagi Treyarch. Studio tersebut saat ini tengah menggarap proyek baru dalam waralaba Black Ops yang dijadwalkan rilis pada 2027. Dengan kepergian Gordon, Treyarch menunjuk Kevin Hendrickson dan Yale Miller sebagai Co-Studio Heads. Keduanya adalah veteran yang telah malang melintang di industri gim, khususnya dalam pengembangan Call of Duty. Hendrickson sebelumnya menjabat sebagai Production Director, sementara Miller dikenal sebagai Head of Development untuk seri Black Ops.
Dalam pernyataan resmi, Treyarch menyebutkan bahwa Hendrickson dan Miller membawa kombinasi pengalaman teknis dan komitmen terhadap budaya studio. โKevin dan Yale adalah veteran waralaba dengan pengalaman pengembangan dan kepemimpinan selama puluhan tahun. Mereka memiliki pengetahuan mendalam tentang gim dan dedikasi terhadap budaya serta ambisi kreatif Treyarch,โ tulis pernyataan tersebut.
Kepergian Gordon juga memicu spekulasi tentang masa depan Treyarch di bawah struktur kepemimpinan ganda. Model co-studio head sebenarnya bukan hal baru di industri gim, tetapi efektivitasnya masih menjadi perdebatan. Beberapa analis menilai bahwa pembagian peran ini bisa memperkuat fokus pada aspek kreatif dan operasional secara bersamaan, namun juga berpotensi menimbulkan gesekan jika tidak dikelola dengan baik.
Bagi penggemar Call of Duty di Indonesia, pergantian ini mungkin tidak langsung terasa, mengingat Treyarch tetap berkomitmen pada jadwal rilis tahunan waralaba. Namun, perubahan di pucuk pimpinan bisa memengaruhi arah cerita dan mekanisme gim di masa depan. Komunitas gim Tanah Air, yang cukup besar peminatnya terhadap seri Black Ops, tentu berharap transisi ini berjalan mulus dan kualitas gim tetap terjaga.
Pertanyaan besar kini menggantung: akankah era baru di Treyarch mampu mempertahankan reputasi sebagai pengembang first-person shooter terdepan, atau justru akan menghadapi tantangan adaptasi yang berat? Hanya waktu yang akan menjawab, namun satu hal pastiโwarisan Mark Gordon akan terus dikenang sebagai fondasi kokoh bagi studio yang telah menghibur jutaan pemain di seluruh dunia.



