Kisah Mistis Johnny Borrell Razorlight: Stigmata di Tengah Puncak Popularitas
Baca dalam 60 detik
- Vokalis Razorlight, Johnny Borrell, mengalami luka stigmata di tangannya saat band berada di puncak kesuksesan pada 2006.
- Dokter yang merawat Borrell menduga fenomena itu akibat religious ecstasy atau infeksi kulit yang meluas.
- Menjelang tur 20 tahun album self-titled, Razorlight kembali dengan formasi klasik untuk merayakan warisan musik mereka.

Dua dekade setelah ledakan popularitas album kedua Razorlight, sang vokalis, Johnny Borrell, membuka lembaran masa lalu yang jarang terungkap: ia pernah mengidap luka stigmata di kedua tangannya pada pertengahan 2000-an. Fenomena langka yang identik dengan luka penyaliban Yesus Kristus itu muncul justru saat grup asal Inggris itu menikmati puncak ketenaran.
Dalam perbincangan dengan drummer Andy Burrows yang dikutip ContactMusic.com, Borrell mengaku kebingungan ketika pertama kali melihat bercak merah aneh di telapak tangannya. Ia pun segera memeriksakan diri ke dokter. “Saya bertanya, ‘Ada apa ini?’ Dokter hanya mengangkat bahu dan berkata, ‘Religious ecstasy?’” kenang Borrell. Dokter menduga luka itu bisa jadi infeksi yang menyebar membentuk lingkaran, atau fenomena psikosomatis yang dipicu tekanan spiritual.
Stigmata, dalam tradisi Kristen, merujuk pada luka yang muncul secara spontan tanpa sebab medis yang jelas, kerap dikaitkan dengan pengalaman mistis atau ekstase religius. Meski langka, kasus stigmata tercatat dalam sejarah gereja dan sering menjadi subyek kontroversi antara sains dan iman. Dalam kasus Borrell, ia mengaku tidak tahu pasti apa penyebabnya.
Bagi penggemar musik di Indonesia, Razorlight mungkin bukan nama asing. Lagu-lagu seperti “America” dan “In the Morning” sempat menjadi teman setia anak muda era 2000-an, terutama di kalangan penggemar musik indie Barat. Fenomena stigmata yang dialami Borrell bisa menjadi pengingat bahwa tekanan kesuksesan—ditambah ekspektasi publik dan tur tanpa henti—sering memicu respons fisik yang tak terduga. Di Indonesia sendiri, kasus serupa pernah dilaporkan pada beberapa individu yang mengaku mengalami luka stigmata, meskipun jarang mendapat validasi ilmiah.
Kini, Borrell tampaknya lebih santai menanggapi masa lalu. Mendengarkan kembali album yang sama, ia mengaku bisa melihat tempatnya dalam jajaran klasik rock. “Saya suka. Saya paham di mana posisinya dalam katalog rock 'n' roll,” ujarnya, memberikan pujian khusus kepada produser Chris Thomas yang memberi warna sonik khas. Burrows, sang drummer, menyebut album itu sebagai “usaha yang bagus”.
Tur November mendatang akan menjadi momen langka karena Razorlight tampil dengan empat personel asli: Borrell, Burrows, Björn Ågren, dan Carl Dalemo. Mereka akan membawakan seluruh lagu dari album self-titled, termasuk hits legendaris seperti “Golden Touch” dan “Before I Fall to Pieces”. Pertanyaannya, mampukah nostalgia ini mengembalikan kejayaan Razorlight—atau hanya akan menjadi episode terakhir dari perjalanan yang penuh liku?



