Pemimpin Myanmar Min Aung Hlaing Kunjungi China: Perkuat Kemitraan Strategis di Tengah Tekanan Internasional
Baca dalam 60 detik
- Presiden Myanmar Min Aung Hlaing melakukan kunjungan kenegaraan ke China pada 15-19 Juni atas undangan Xi Jinping, menandai langkah diplomasi di tengah isolasi global.
- Kunjungan ini diharapkan memperdalam kemitraan strategis komprehensif dan mewujudkan komunitas senasib China-Myanmar, dengan fokus pada kerja sama infrastruktur dan perdagangan.
- Bagi Indonesia, dinamika ini menggarisbawahi rivalitas pengaruh di ASEAN antara China dan negara-negara Barat, serta potensi dampak pada stabilitas regional.

Presiden Myanmar, Min Aung Hlaing, dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke China pada 15 hingga 19 Juni mendatang, sebuah langkah diplomatik yang menyoroti eratnya hubungan antara junta militer Myanmar dengan Beijing di tengah tekanan internasional yang meningkat. Kunjungan ini merupakan respons atas undangan langsung Presiden China Xi Jinping, sebagaimana diumumkan juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, dalam konferensi pers rutin.
Selama berada di Beijing, Min Aung Hlaing dijadwalkan bertemu dengan sejumlah petinggi China. Selain melakukan pembicaraan bilateral dengan Xi Jinping, ia juga akan bertemu dengan Perdana Menteri Li Qiang dan Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional, Zhao Leji. Agenda ini menandakan bahwa China memberikan perhatian khusus pada kunjungan tersebut, yang terjadi di saat Myanmar menghadapi sanksi dan kecaman dari negara-negara Barat pasca kudeta militer 2021.
Lin Jian menekankan bahwa China dan Myanmar adalah “tetangga tradisional yang bersahabat” dan “komunitas dengan masa depan bersama.” Dalam pernyataannya, ia merujuk pada 76 tahun hubungan diplomatik yang dibangun di atas semangat Lima Prinsip Hidup Berdampingan Secara Damai. “China dan Myanmar telah bersama-sama melewati suka dan duka, saling menjaga, dan menjalin solidaritas serta kerja sama,” ujar Lin, seraya menambahkan bahwa hubungan kedua negara telah mencapai kemajuan signifikan.
Kunjungan ini bukan sekadar seremoni. China diperkirakan akan menggunakan momentum ini untuk memperkuat pengaruhnya di Myanmar, terutama dalam proyek-proyek strategis seperti Koridor Ekonomi China-Myanmar yang merupakan bagian dari Belt and Road Initiative (BRI). Di sisi lain, bagi junta Myanmar, dukungan China menjadi penyelamat di tengah krisis ekonomi dan politik domestik. “Kunjungan ini menunjukkan bahwa Myanmar masih memiliki mitra besar yang bersedia bekerja sama, meskipun banyak negara lain menjauh,” kata seorang analis hubungan internasional di Jakarta.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung. Sebagai sesama anggota ASEAN, Indonesia berkepentingan terhadap stabilitas Myanmar, terutama dalam isu pengungsi dan keamanan perbatasan. Namun, kedekatan China-Myanmar juga menimbulkan pertanyaan tentang keseimbangan kekuatan di kawasan. “Indonesia perlu mencermati apakah kerja sama China-Myanmar akan menggeser pengaruh ASEAN dalam proses rekonsiliasi di Myanmar,” ujar pengamat politik dari Universitas Indonesia.
Ke depan, kunjungan ini diprediksi akan menghasilkan sejumlah kesepakatan ekonomi dan investasi, meskipun rinciannya belum diumumkan. Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah China akan menggunakan pengaruhnya untuk mendorong dialog politik di Myanmar, atau justru memperkuat status quo? Jawabannya akan menentukan arah hubungan kedua negara dan stabilitas kawasan Asia Tenggara dalam beberapa tahun ke depan.



