PSI Balik Menyerang: Tuduhan Bajak Kader PDIP Tanda Panik
Baca dalam 60 detik
- PSI menilai tudingan PDIP soal pembajakan kader sebagai bentuk kepanikan menghadapi dinamika politik.
- Bestari Barus menyebut PDIP masih terobsesi dengan Jokowi dan mengabaikan kerja nyata untuk rakyat.
- Perseteruan ini memperlihatkan ketegangan antarpartai jelang kontestasi politik ke depan.

Ketua DPP Bidang Politik Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Bestari Barus, membalas tudingan politisi PDIP Deddy Sitorus yang menyebut PSI gencar membajak kader partai lain. Bestari menilai pernyataan itu sebagai cerminan kepanikan dan ketakutan PDIP dalam menghadapi dinamika politik yang terus berubah.
"Wah, campur aduk itu, kepanikan, ketakutan, segala macam gitu loh," ujar Bestari melalui sambungan telepon, Senin (15/6). Ia menambahkan bahwa alih-alih sibuk mengomentari PSI, lebih baik PDIP mengajak Ketua Umum Megawati Sukarnoputri untuk melakukan safari politik dan menyapa langsung masyarakat.
Bestari juga menyentil PDIP yang dianggap masih berkutat dan gagal move on dari sosok Presiden Joko Widodo. "Daripada ngomongin PSI, ngomongin Pak Jokowi yang katanya udah dilupakan, bagaimana sih PDIP ini," ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Bestari membantah narasi pembajakan yang disuarakan Deddy. Ia menegaskan tidak ada paksaan dalam keputusannya hengkang dari Partai NasDem ke PSI. Bestari mengaku telah sowan kepada Jokowi dan berpamitan dengan Ketua Umum NasDem Surya Paloh sebelum bergabung.
"Nah jadi apa yang disampaikan Deddy ya terkait saya aja udah enggak bener, apalagi yang lainnya, sudah lah Deddy urusin rakyat, dan jadi DPR kerja bener gitu loh, saya kira itu. Jangan panik berkepanjangan," tegas Bestari.
Sebelumnya, Ketua DPP PDIP Deddy Yevri Sitorus menuding PSI tengah gencar merekrut kader dari berbagai partai politik, tidak hanya PDIP tetapi juga NasDem, Demokrat, dan PAN. Deddy menyatakan PDIP terus mengawasi gerakan PSI yang berupaya membujuk kader-kader mereka. "Ingat, partai-partai lain pun akan berhadapan dengan mereka karena upaya untuk membajak kader partai-partai lain. Ini banyak sekali terlihat gejalanya, terutama di basis-basis Nasdem, Demokrat, dan PAN. Jadi mereka tidak saja berhadapan dengan PDIP, tetapi juga dengan partai-partai lain yang kadernya dipungut untuk membesarkan PSI secara instan," kata Deddy.
Perseteruan antara PSI dan PDIP ini mencerminkan ketegangan politik yang semakin memanas menjelang kontestasi elektoral. PSI, yang selama ini dikenal sebagai partai pendukung Jokowi, kini mulai memperluas basis kadernya dengan merekrut tokoh-tokoh dari partai lain. Langkah ini dinilai sebagai strategi untuk memperkuat posisi tawar dalam koalisi politik ke depan. Sementara itu, PDIP yang selama ini menjadi partai pemenang pemilu merasa terancam dengan manuver PSI yang dianggap mengganggu stabilitas internal partai.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah persaingan ini akan berujung pada konflik terbuka atau justru mendorong konsolidasi politik yang lebih matang? Yang jelas, publik akan terus mengawasi langkah kedua partai ini dalam merebut simpati rakyat.



