Pramono Anung Bawa Dua Mandat di World Cities Summit 2026 Singapura
Baca dalam 60 detik
- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menghadiri World Cities Summit 2026 di Singapura hingga 16 Juni, dengan peran ganda sebagai perwakilan ibu kota dan Vice Chair C40 Cities untuk kawasan Asia Timur, Asia Tenggara, dan Oseania.
- Forum ini menjadi ajang pertama bagi Pramono dalam kapasitas barunya sejak April 2026, mempertemukan para pemimpin kota global untuk membahas solusi perkotaan.
- Jakarta membidik investasi hijau dan kemitraan swasta untuk program pendinginan kota, namun menekankan perlunya dukungan sistem keuangan global.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8259325/original/058322700_1781495924-Pramono_Singapura.jpg)
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tengah berada di Singapura untuk mengikuti rangkaian World Cities Summit (WCS) 2026, sebuah forum global yang mempertemukan para pemimpin kota dari berbagai negara. Dalam kunjungan yang berlangsung hingga 16 Juni 2026 ini, Pramono tidak hanya membawa misi sebagai kepala daerah, tetapi juga menyandang peran strategis sebagai Vice Chair C40 Cities untuk kawasan Asia Timur, Asia Tenggara, dan Oseania.
Penunjukan Pramono sebagai Vice Chair C40 Cities pada April 2026 lalu menjadi landasan utama kehadirannya di forum ini. Ini adalah kali pertama ia berpartisipasi dalam kapasitas tersebut, bergabung dengan para wali kota dunia lainnya dalam C40 Mayoral Convening yang menjadi agenda pembuka kunjungan. Menurut keterangan resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pramono mengemban dua mandat sekaligus: mewakili Jakarta sebagai ibu kota negara dan menjalankan peran kepemimpinannya di jaringan kota-kota global yang berkomitmen pada aksi iklim.
Bagi Jakarta, kehadiran di WCS 2026 bukan sekadar seremoni. Pramono menyatakan bahwa forum ini menjadi peluang untuk menggali solusi atas tantangan perkotaan yang kian kompleks, mulai dari kemacetan, polusi, hingga perubahan iklim. โKami ingin mewujudkan kota yang lebih nyaman, ramah lingkungan, dan berdaya saing,โ ujarnya dalam pernyataan yang dikutip pada Senin (15/6/2026). Lebih dari itu, WCS juga dimanfaatkan untuk memperkuat kerja sama dengan mitra internasional dan membuka peluang investasi yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Salah satu isu yang diangkat Pramono dalam forum adalah perlunya dukungan sistem keuangan global untuk mendanai upaya pendinginan perkotaan di Jakarta. โKami terbuka terhadap investasi pembiayaan hijau dan kemitraan pemerintah dengan swasta. Namun, upaya ini memerlukan dukungan dari sistem keuangan global,โ tegasnya. Pernyataan ini menggarisbawahi tantangan yang dihadapi kota-kota di negara berkembang, di mana pendanaan iklim seringkali menjadi kendala utama dalam implementasi proyek-proyek berkelanjutan.
Bagi Indonesia, partisipasi Jakarta dalam forum seperti WCS dan C40 Cities memiliki implikasi luas. Selain memperkuat posisi Jakarta di kancah internasional, forum ini juga membuka akses terhadap praktik terbaik dan teknologi perkotaan yang dapat diadopsi. Namun, keberhasilan Jakarta dalam menarik investasi hijau akan sangat bergantung pada kebijakan domestik dan stabilitas regulasi. Pertanyaan yang muncul kemudian: sejauh mana komitmen pemerintah pusat dan daerah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi proyek-proyek ramah lingkungan?
Ke depan, hasil dari WCS 2026 diharapkan tidak hanya menjadi catatan diplomatik, tetapi juga terjemahan nyata dalam kebijakan di Jakarta. Dengan tantangan urbanisasi yang terus meningkat, langkah-langkah konkret seperti perluasan ruang terbuka hijau, transportasi massal berbasis listrik, dan insentif bagi bangunan hemat energi menjadi krusial. Apakah Jakarta mampu memanfaatkan momentum ini untuk bertransformasi menjadi kota global yang berkelanjutan? Jawabannya akan terlihat dalam implementasi pasca-forum.



