Kisah Nyata di Balik 'Grave of the Fireflies': Perjuangan Hidup Seorang Yatim Piatu Perang Kobe
Baca dalam 60 detik
- Seorang perempuan berusia 90 tahun di Jepang akhirnya buka suara tentang pengalaman traumatisnya sebagai yatim piatu akibat serangan udara Kobe 1945, yang mengilhami film animasi terkenal 'Grave of the Fireflies'.
- Setelah kehilangan empat anggota keluarga, ia bertahan hidup dengan mencuri, tidur di jalanan, dan nyaris menjadi korban eksploitasi sebelum akhirnya membangun kehidupan baru sebagai pemilik toko buku.
- Di usianya yang ke-90, ia memutuskan berbicara untuk mengingatkan dunia bahwa anak-anak adalah korban terbesar perang, dengan harapan tidak ada lagi yatim piatu akibat konflik bersenjata.

Seorang perempuan Jepang berusia 90 tahun, yang selamat dari serangan udara Kobe pada 5 Juni 1945, akhirnya memutuskan untuk menceritakan kisah hidupnya yang selama delapan dekade ia simpan rapat—bahkan dari keluarganya sendiri. Pengalaman pahitnya menjadi cermin nyata dari film animasi 'Grave of the Fireflies' yang menggambarkan tragedi serupa.
Perempuan itu kehilangan ayah, ibu, dan dua saudara lelakinya yang berusia 16 dan 4 tahun dalam serangan yang mengubah separuh timur Kobe menjadi padang pasir abu. Saat itu ia baru duduk di bangku kelas tiga SD dan telah dievakuasi ke desa pertanian sebulan sebelumnya. Setelah perang usai, ia hanya diberi tahu bahwa keluarganya tewas—tanpa ruang untuk berduka, pikirannya hanya dipenuhi cara bertahan hidup.
Ia sempat tinggal di rumah pamannya di Nishinomiya, tetapi tidak mendapat cukup makanan. Demi bertahan, ia mencuri makanan dari ladang dan pasar gelap, bahkan mengunyah permen karet bekas tentara Amerika. Ketika tetangga menyebarkan rumor bahwa ia 'pencuri', ia diusir dan kembali menjadi tunawisma di usia 10 tahun. Ia tidur di taman dan mencuri di bawah rel kereta api yang menjulang di atas area hangus.
Dalam situasi paling rentan, seorang pekerja seks komersial yang melayani tentara Amerika menawarkan roti dan tempat tinggal. Namun saat mandi, ia curiga ada maksud tersembunyi. Dengan nekat, ia mencuri uang dari tas wanita itu dan melarikan diri, hanya bertutup handuk kecil, lalu melompat ke kereta. Setelah itu ia bekerja di sebuah peternakan di Amagasaki, nyaris tidak bisa bersekolah meski dijanjikan.
Ketika memasuki usia SMP, ia diadopsi oleh pasangan tak punya anak di Osaka. Untuk pertama kalinya ia memiliki figur orang tua dan bisa bersekolah. Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung satu semester; ia dikirim ke panti asuhan tanpa alasan jelas. Surat-surat permohonannya untuk kembali akhirnya dikabulkan, tetapi begitu lulus SMP, ia disuruh hidup mandiri.
Ia bekerja di toko obat di Osaka, lalu pindah ke Tokyo pada usia 19 dan menikah dengan pemilik kedai kopi tempatnya bekerja setahun kemudian. Bersama suami, ia membuka toko buku—impian lama suaminya—dan menjalankannya selama hampir 20 tahun sambil membesarkan tiga anak. Selama itu, ia tidak pernah bercerita tentang masa lalunya.
Baru pada Maret tahun ini, di usia 90 tahun, ia mengajak putri sulungnya menghadiri upacara peringatan di sebuah kuil di Kobe. Di sana, untuk pertama kalinya ia membuka seluruh kisah hidupnya. "Kau selamat dari neraka. Inilah perang yang sesungguhnya," kata putrinya, menerima dengan lembut.
Keputusannya untuk berbicara muncul setelah melihat liputan media dan karya visual tentang perang yang menurutnya belum cukup menggambarkan realitas anak yatim piatu. "Saya malu dengan masa lalu—mencuri dan hidup di jalanan—dan tidak ingin orang lain tahu. Tapi saya ingin mereka tahu ada anak-anak yang tidak punya pilihan selain hidup seperti itu," ujarnya.
Perempuan itu menegaskan, "Korban terbesar perang adalah anak-anak. Efek dari luka itu terus berlanjut bahkan setelah mereka dewasa. Saya sangat menentang perang." Di usianya yang senja, ia berharap kisahnya menjadi pengingat bahwa konflik bersenjata masih menciptakan yatim piatu baru di berbagai belahan dunia. Pertanyaannya, akankah dunia belajar sebelum terlalu banyak anak kembali kehilangan segalanya?



