Studi Australia: Gawai di Kamar Tidur Anak Picu Gangguan Tidur, Efeknya Lebih Parah dari Dugaan
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terhadap 3.324 keluarga Australia mengungkap bahwa anak usia 2–3 tahun yang menggunakan gawai genggam setiap hari mengalami keterlambatan tidur hingga 30 menit dan durasi tidur lebih pendek.
- Hampir 40% anak usia lima tahun sudah memiliki gawai genggam di kamar tidur, dan penggunaan layar dua jam sebelum tidur berkorelasi dengan masalah tidur yang lebih serius.
- Temuan ini menekankan pentingnya mengatur tidak hanya durasi, tetapi juga lokasi dan waktu penggunaan layar untuk melindungi kualitas tidur anak.

Kebiasaan menempelkan gawai pada anak sejak dini terbukti mengganggu siklus tidur mereka, bahkan pada usia batita sekalipun. Sebuah studi longitudinal yang melibatkan ribuan keluarga di Australia menemukan bahwa setiap jam penggunaan perangkat genggam per hari membuat anak usia dua tahun tidur hampir 30 menit lebih larut, sementara anak usia tiga tahun tidak hanya tidur lebih malam tetapi juga mengalami penurunan total waktu tidur dan kesulitan berfungsi keesokan harinya.
Riset yang digagas oleh Australian Centre of Excellence for the Digital Child ini mengumpulkan data dari 3.324 keluarga dengan anak berusia enam bulan hingga enam tahun. Para pengasuh melaporkan pola tidur anak, durasi dan jenis layar yang digunakan, serta apakah gawai berada di kamar tidur. Hasilnya memperlihatkan bahwa paparan layar pada anak-anak terjadi sangat awal dan sering, dengan kurang dari separuh anak usia dua hingga lima tahun memenuhi rekomendasi nasional Australia yang membatasi waktu layar maksimal dua jam per hari.
Yang menarik, efek negatif gawai terhadap tidur tidak seragam di semua usia. Pada bayi usia 6–12 bulan, studi belum menemukan kaitan signifikan antara penggunaan layar dan gangguan tidur. Para peneliti menduga faktor sosial dan biologis lain lebih dominan pada kelompok ini, meskipun paparan pasif—misalnya saat orang tua atau kakak menonton di dekat bayi—mungkin belum terukur secara akurat. Namun, begitu anak memasuki usia satu tahun ke atas, pola yang mengkhawatirkan mulai muncul.
Penggunaan gawai di kamar tidur, terutama perangkat genggam seperti ponsel dan tablet, meningkat seiring bertambahnya usia anak. Pada usia lima tahun, hampir 40 persen anak sudah memiliki akses ke gawai genggam di kamar mereka. Kebiasaan ini diperparah dengan penggunaan layar dalam dua jam sebelum tidur, yang secara konsisten dikaitkan dengan waktu tidur yang lebih pendek, jadwal tidur yang lebih larut, dan lebih banyak masalah tidur pada anak usia satu hingga lima tahun.
Peneliti mengingatkan bahwa data yang dikumpulkan bersifat potong lintang (cross-sectional), sehingga belum bisa memastikan hubungan sebab-akibat. Kemungkinan lain, anak yang tidurnya lebih sedikit justru memiliki lebih banyak waktu luang untuk menggunakan gawai. Meski demikian, temuan ini memberikan petunjuk praktis bagi orang tua. Rekomendasi yang ada saat ini hanya berfokus pada durasi total waktu layar, padahal studi ini menunjukkan bahwa lokasi (kamar tidur), waktu (menjelang tidur), dan jenis perangkat (genggam vs statis) juga memegang peranan penting.
Bagi orang tua di Indonesia, temuan ini relevan mengingat penetrasi gawai pada anak usia dini juga tinggi. Survei Kominfo dan UNICEF tahun 2020 mencatat bahwa 33 persen anak Indonesia di bawah usia 12 tahun sudah memiliki ponsel sendiri. Kebiasaan membawa gawai ke kamar tidur atau menonton video sebelum tidur menjadi pemandangan umum di banyak rumah tangga. Tanpa intervensi yang tepat, risiko gangguan tidur pada anak—yang berujung pada masalah konsentrasi, obesitas, dan perkembangan kognitif—dapat meningkat.
Para peneliti menyarankan langkah konkret: jauhkan gawai dari kamar tidur, ciptakan rutinitas pra-tidur yang menenangkan seperti membaca atau bermain, dan batasi penggunaan layar genggam yang terang dan dipegang dekat wajah sebelum tidur. Cahaya biru dari layar diketahui menekan produksi melatonin, hormon yang mengatur siklus tidur. “Layar di rumah tidak akan hilang, tetapi dengan penyesuaian sederhana pada tempat dan waktu penggunaannya, keluarga dapat melindungi tidur yang dibutuhkan anak-anak mereka,” tulis para peneliti.
Ke depan, studi lima tahun yang masih berjalan ini diharapkan mampu mengungkap hubungan kausal yang lebih jelas antara kebiasaan layar dan kualitas tidur anak. Pertanyaan yang mengemuka: akankah orang tua di Indonesia bersedia mengubah kebiasaan digital demi kesehatan tidur anak, atau justru sebaliknya—semakin dini anak terpapar layar, semakin besar tantangan yang harus dihadapi?



